Waktu yang mendewasakanmu

Aku masih sangat ingat ketika itu. Ketika kamu berkali-kali menanyakan padaku, "Bagaimana supaya tahu perasaaan dia padaku?" Aku bertanya, "Buat apa kamu tahu? Oke kalau tidak. Kalau iya, kamu mau apa?" Kamu sendiri bingung harus menjawab apa. Lalu kamu terus mendesak ingin tahu perasaan dia. Aku menyarankan, "Tanyalah padanya. Jika tidak berani, tanyakan lewat orang yang kau percaya untuk menjadi perantara."

Sayangnya, kamu tidak punya keberanian untuk menanyakannya, juga tidak ada orang yang bisa kamu percayakan menjadi perantara. Aku sangat memahami keadaanmu. Keadaan orang yang sedang jatuh cinta. Namun memang perlu dipertanyakan dan dipastikan kembali, apakah rasa cinta itu timbul karena nafsu atau bukan.

Kamu hanya butuh kepastian. Ntah apapun yang dia rasakan padamu sebenarnya. Katamu, "Jika tidak, maka aku bisa segera berusaha untuk melupakannya. Jika ya, aku akan bersabar menunggunya."

Aku pun pernah menyarankan padamu, "Tunggulah dulu. Jika saatnya telah tiba, kamu akan lupa padanya. Ini hanya masalah waktu. Percayalah."

Sayang, bahkan sekitar setahun berlalu namun kegalauan itu tetap ada. Rasa penasaran itu tetap ada. Namun, mungkin memang sudah takdirnya pula bahwa kamu tidak pernah bisa mengetahui perasaannya hingga saat ini.

Kamu bertanya, "Butuh berapa lama lagi? Ini sudah setahun." Aku hanya bisa bilang, "Mungkin belum saatnya. Setiap orang punya rentang waktu yang berbeda-beda. Mungkin kamu butuh waktu lebih dari setahun."

Waktu yang akan mendewasakanmu. Aku hanya berusaha menjadi sahabat yang selalu ada saat kau ingin  mencurahkan perasaanmu. Aku pun hanya sedang berusaha supaya kamu tidak terjebak dalam 'kesesatan'.

Ntah ada angin dari mana malam ini. Kita kembali berkutat dalam perbincangan tentang orang yang kau tunggu kepastiannya selama ini. Namun, apa katamu. Kamu bilang bahwa kamu sudah tidak peduli dengan perasaannya. Kamu berusaha untuk bersabar dan menerima takdirNya. Aku sempat heran dan menanyakan padamu, "Sekarang ngomongnya gini, ya? Padahal dulu kekeuh banget ingin dapat kepastian." Kau pun menjawab dengan bijak, "Itu kan dulu. Sekarang sudah lebih dewasa."

Waktu yang mendewasakanmu. Mungkin inilah waktunya. Inilah waktu saat kamu sudah bisa berpikir lebih dewasa mengenai apa yang kau kejar selama ini. Kepastian semu. Pengalaman dan kedewasaan pula yang mengajarkan kita mengenai apa yang sebenarnya kita butuhkan dan seharusnya lakukan.

Kini, kita semua malah bersyukur. Bersyukur karena Tuhan telah melindungi kita selama ini. Mungkin jika keinginan kita diwujudkanNya pada masa itu, sekarang kita tidak bisa merasakan kenikmatan ini. Mungkin sekarang kita malah sedang merasakan akibat dari kesalahan kita di masa lalu. Puji syukur atas karunia dan lindunganNya..

Kini, kita tahu apa yang kita butuhkan. Kita sadar apa kepastian yang sesungguhnya kita butuhkan. Bukan kepastian semu, melainkan kepastian yang tak menjerumuskan kita dalam dosa. Coba jika ternyata dia ya dan kamu dahulu bilang akan menunggu. Sampai kapan kamu akan menunggu? Apa yang akan kamu dan dia lakukan selama masa menunggu itu? Apakah itu yang Dia inginkan?

Waktu yang mendewasakanmu. Kita bisa menilai kedewasaan dan kepribadian seseorang dari jawaban atau tanggapannya terhadap suatu hal. Kini aku yakin, kamu sudah lebih dewasa. Ya, walau sesekali ketika 'racun' itu datang, kamu kembali terlihat bingung. Padahal ketika orang lain yang kebingungan, kamu bisa dengan mudahnya memberi nasihat yang sesuai. Namun ketika kamu yang sedang 'teracuni', kamu berada dalam kebingungan lagi. Aku rasa itu wajar terjadi karena racun itu sedang menghampirimu. Kondisi saat pintu masuknya setan perlahan mulai terbuka. Saat itu, ingatlah nasihat-nasihat yang pernah kau katakan pada orang lain saat orang itu sedang berada dalam kondisimu.

adharta.com


It's about dream

Everyone has the right to dreams. I hope, every my hopes, of the intention until reach it, make me getting closer to You. 

This dream ever existed. A bestfriend has reminded me to this dream after I saw her social media account. 

Ukh, insya ALLAH, we'll be there, ya. Together with they are we love so. :)
Aamiin Ya Rabb..

Sumber: solusiumroh.net  


Persib mengenalkan kita

Aku lahir di Bandung, sudah cukup lama menjalani kehidupan disini, namun itu tidak menjadikanku sebagai seorang bobotoh Persib. Aku tidak ada kecenderungan terhadap klub sepakbola tertentu.

Aku pernah mendengar dari seseorang bahwa Persib bukan Bandung, tapi Persib adalah Jawa Barat. Hal itu cukup membuatku kagum. Namun, tetap tidak sampai membuatku 'gila' Persib.

Kau tahu? Belum lama ini Persib memenangkan Indonesia Super League (ISL) 2014. Arak-arakan perayaan kemenangan Persib ini membuat Bandung seketika menjadi Lautan Biru. Disana-sini beredar berita negatif akibat dari perayaan ini.

Ya, aku memang bukan yang terlalu mau ambil pusing mengenai hal ini. Di satu sisi ini sangat jarang terjadi, biarlah mereka bersenang-senang. Walaupun seharusnya semua bisa saling mengerti, tidak perlu ada korban dalam perayaan ini. Apalagi diriku tidak sedang stay di Bandung sehingga tidak ikut merasakan hawa euforia kemenangan Persib ini.

Ya, apapun itu Persib, apapun pandangan orang terhadap Persib,  
Persib-lah yang telah mengenalkan kita. :)

Sumber: en.wikipedia.org


Mari merenung sejenak...

Baru saja aku menonton sebuah video yang sangat menyentuh dan menyindir diriku sendiri. Bukan hanya sekali, beberapa kali aku telah mengalami keadaan saat diriku begitu sibuk dengan urusan dunia yang melelahkan, hingga mengorbankan kebiasaan akhiratku. Alasannya sangat sederhana. Aku lelah. Aku lelah sehingga tidak kuat untuk bangun atau menggerakkan diri menjalankan ibadah-ibadah utama yang memang sulit untuk diaplikasikan oleh orang sibuk, lebih tepatnya orang sibuk yang terlena. Akibatnya, secara sadar atau tidak sadar, kita sedang menjauh dariNya. Sedikit-sedikit intensitas khusus bersamanya berkurang.

Aku memang hanya manusia biasa. Imanku masih fluktuatif sehingga aku bisa merasakan keadaan seperti ini tidak hanya sekali. Setidaknya, aku ingin selalu ada yang mengingatkan saat aku 'jatuh' sehingga aku kembali bangkit. Aku tidak ingin 'dipanggil' saat keadaanku sedang 'jatuh'.

Beruntungnya seorang muslim, setiap detik hidupnya bisa bernilai ibadah jika setiap perbuatannya diniatkan murni karena ALLAH. Tapi menurutku, bukan berarti pula ibadah ritual kita berkurang intensitasnya karena terlalu banyak diisi oleh kesibukan duniawi yang mengancam diri kita berpaling dariNya.

Silakan hidup sesukamu, namun ingatlah selalu tujuan hidup utamamu dan tetap berada dalam koridor yang benar. Sahabat/teman seiman merupakan kebutuhan penting untuk saling mengingatkan. Semoga kita selalu berada di lingkungan yang bisa mendukung kita untuk semakin dekat denganNya dalam keadaan seperti apapun.


Are we looking at the same star?

Sumber: manado.tribunnews.com


Teman cerita

Aku memang bukan siapa2..
Tapi mungkin kamu cocok untuk berbagi cerita denganku.
Bukan karena aku sok sok mau jadi pahlawan dan punya segudang solusi atau penenang.

Minimal aku punya keinginan untuk mendengarkanmu. 

 Ntah kenapa, dahulu waktu SMP, teman-temanku merasa aku adalah tempat yang enak untuk dicurhati. Aku sendiri merasa memiliki bakat dalam hal konseling. Sejak itu pula aku punya keinginan untuk menjadi psikolog. Cita-cita yang sedari awal ini terus bertahan hingga saatnya mendaftar kuliah.

Tuhan memang tidak menakdirkanku untuk menjajaki kehidupan kampus di jurusan psikologi. Namun, aku masih merasa bakat itu tetap ada hingga sekarang. Ntahlah, mungkin bukan bakat, melainkan hanya kesenangan menjadi tempat curhat orang lain. Tentu saja aku pun berharap orang yang curhat padaku bisa puas dan merasa nyaman denganku.

Aku memang bukan siapa-siapa. Aku bukan seorang psikolog. Namun, aku punya keinginan mendengarkan ceritamu. Mungkin dengan kita saling bertukar pikiran, kita bisa menjadi pribadi yang lebih bersyukur. Bersyukur karena kita disadarkan bahwa ternyata kesulitan hidup yang kita alami tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Minimal, kita bersyukur karena masih ada orang yang mau mendengarkan kita. Buat kamu, mungkin kita sudah saling kenal, atau mungkin bahkan kita sama sekali tidak saling kenal. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk berteman, bukan? :)


Cinta yang sulit

Pernahkah kamu merasa menyukai seseorang, lalu kamu berusaha untuk mendapatkannya tapi ternyata sulit?
Mungkin kamu perlu merenung sejenak. Kenapa sulit? Apakah kamu begitu rendah untuknya sehingga masih perlu berjuang memperbaiki diri agar pantas untuknya? Atau dia memang bukan yang terbaik untukmu sehingga Dia menyulitkan jalanmu bersamanya agar kamu tidak terjebak dalam cinta sesaat?

Mungkin kamu memang masih perlu memperbaiki diri. Tapi aku khawatir jika kamu memperbaiki diri untuknya, bukan untukNya. Jika kamu mau memperbaiki diri, niatkanlah hanya untukNya. Niatkan bahwa kamu akan terus memperbaiki diri, dengan atau tanpa bersamanya.

Mungkin kamu telah dikalahkan oleh nafsu. Nafsu yang membuat matamu tertutup sehingga hanya ada dia dalam pikiran dan harapmu. Mungkin kamu perlu melunakkan hatimu untuk bisa mencintai dengan sederhana. Aku khawatir ini akan menjadi cinta yang didasarkan oleh nafsu, bukan oleh ketaatan padaNya.

Mungkin memang belum waktunya kamu bersamanya sehingga Ia menyulitkan jalanmu dengannya agar kalian tidak terjebak pada cinta di waktu yang tidak tepat. Kamu hanya perlu bersabar untuk dipertemukan dengan yang terbaik. Aku khawatir, ketidaksabaranmu hanya akan membuatmu kecewa di akhir cerita. Bagaimana jika ternyata dia bukan jodohmu di saat kamu telah melakukan banyak hal dengannya? Sementara di luar sana ada sosok yang menjaga dirinya dengan sangat baik untuk bisa menjadi yang terbaik untukmu. Bagaimana jika orang yang kamu sukai malah bersama dengan orang lain karena kamu terlambat? Ya itu berarti memang dia bukan untukmu. Tegakah kamu karena tidak sabar lalu malah membuat orang yang kamu cintai menunggu hingga waktu yang tidak jelas?

Biarlah kamu kecewa sekarang karena belum mendapatkan jalan untuk bersamanya. Jika kamu merasa kecewa, mungkin bukan salah dia yang tidak memberi lampu hijau padamu, melainkan kamu yang terlalu menggantungkan harapan padanya. Yakinlah bahwa Dia telah mempersiapkan yang terbaik untukmu di waktu yang terindah pula. Untuk kamu yang masih galau, mungkin akan mengatakan bahwa bukan hal mudah. Kau pernah dengar ungkapan berikut? Kurang lebih begini, "Cara mengobati sakit hati/kecewa adalah dengan jatuh cinta lagi."
Aku tidak ingin kamu jatuh berkali-kali. Aku ingin setelah ini hatimu jatuh untuk terakhir kalinya pada relung yang tepat dan membangun kehidupan baru yang lebih indah bersamanya. Bersama dia yang telah dipilihkan menjadi terbaik untukmu.

Mungkin dia tidak sebaik manusia sebelumnya yang kamu cintai. Aku rasa itu karena kamu melihat dari sisi baik manusia sebelumnya itu. Tapi percayalah, setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dia yang dipilihkan untukmu pasti memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia sebelumnya yang kau cintai.

Kamu dapat menangkap maksudku?
Cintai siapapun dengan sederhana. Tuhanmu, Dialah yang patut menjadi cinta utama dalam hidupmu. Siapapun yang akan menjadi cinta terakhirmu, terimalah ia dengan sepenuh hati. Jalani sisa hidupmu bersamanya untuk mencapai cinta dan ridlaNya. Tentu akan lebih mudah saat agamamu telah sempurna, bukan?

-di bawah langit ibukota negeri tercinta-

Mengungkapkan cinta

Ternyata banyak cara untuk mengungkapkan cinta. Ada orang yang dengan sangat mudahnya mengatakan lewat lisan bahwa ia mencintai seseorang. Namun, ada pula orang lain yang sangat sulit mengeluarkan kata-kata cinta lewat lisannya. Ntah karena jaim, tidak terbiasa, dan malu. Namun, pasti dia memiliki cara lain untuk mengungkapkan rasa cintanya. Misalnya, selalu ingat untuk mendoakan orang yang dicintainya atau membuat tulisan pada diarynya yang berisi ungkapan rasa cinta pada orang itu.

Ada orang yang kata-kata dari mulutnya sangat romantis sehingga sering dijadikan senjata saat kelakuannya tidak disenangi. Ada pula orang yang tidak pernah mengatakan kata-kata romantis, namun perilakunya sangat romantis. Ada yang tidak pernah mengatakan kata-kata romantis dan perilakunya pun tidak romantis. Kalau itu sih, perlu dipertanyakan kembali rasa cintanya. ;)

Kamu? Termasuk orang yang bagaimana cara mengungkapkan cinta?

coolpeopleshop.com


Is he not to be real?

I dreamed someone last night. And maybe it was a sign that he isn't to be real.
It was not a bad dream. In my dream, he gave writing principally if the time has come, he will come. And this is very ambiguous. The sentence is too general. Perhaps the time will come and he will come too. And maybe the time will come, but may be not him who will come.
 
He is someone who I have been admiring for a year. I haven't communicated with him for a long time. Yes, we are not close physically. It also makes me hesitate. How could last for a person who is far and without certainty? Since then, I just need to believe that if he is the best for me, ALLAH will ease the way.

www.ubfriends.org

Rasa yang terpendam

Ada kalanya kita butuh tempat berbagi cerita akan kesulitan hidup. Bukan karena tidak mampu bersabar, hanya supaya rasa yang dipendam tidak menjadi sebab timbulnya penyakit fisik. DIA, tempat terbaik untuk bercerita.


Pula ada kalanya dibutuhkan seseorang untuk dijadikan tempat berbagi. Bukan karena tidak ingat padaNya, namun sekedar menjadikan objek untuk di'jambak' atau diteriaki sebagai ekspresi dari rasa yang terpendam. Lebih baik lagi jika dia bisa menjadi jalan solusi.

www.baseone.co.uk


Puntang (20-21 Sept 14)

This was my first experience of mountain climbing as a bachelor...

My dream

Sebenanya ini adalah impian lama untuk mendaki puncak Gunung Puntang. Berawal dahulu saat rihlah bersama AI'10 ke Curug Siliwangi Puntang. Aku merasa sangat sayang jika tidak sampai ke puncak karena lokasi gunung yang cukup dekat, apalagi ada teman yang punya tempat tinggal sekitar sini. Waktu terus berlalu hingga akhirnya aku telah menyandang gelar sarjana. Ketika diingatkan dengan mimpi ke puncak Puntang, aku jadi berkeinginan untuk sekalian berfoto seperti di atas.

Kukira pendakian Gede-Pangrango adalah pendakian terakhirku karena aku merasa memang tidak mudah mencari teman mendaki. Selain itu rasa tidak enak terhadap ortu yang selalu mengkhawatirkan kepergianku. Oleh karena itu, pun mau mendaki, aku ingin yang tidak terlalu sulit. Bahkan untuk ke Puntang ini rencana awalnya aku ingin PP, tidak nginap saja supaya lebih ringan. Ya, takdir berkata lain. Alhamdulillah, my dream come true, :D

Berikut ini adalah perkiraan timeline perjalanan kami. Sorry for the long time caused us, the ladies.
 
Sabtu, 20 September 2014
8.00   : Berkumpul dengan Amiril dan MP di Jl Gelap Nyawang
8.30   : Berangkat dengan mobil MP ke Puntang
10.15 : Sampai di rumah Sarah
12.45 : Berangkat ke tempat Fadly
13.30 : Mulai perjalanan mendaki
17.15 : Sampai tempat camping

Minggu, 21 September 2014
05.30 : Berangkat menuju puncak
07.15 : Sampai puncak Mega
08.15: Berangkat turun ke camp
9.15   : Sampai camp lagi
11.15 : Berangkat turun gunung
13.10 : Sampai tempat Fadly
18.00 : Berangkat dari rumah Sarah ke Bandung
20.45 : Arrived at home sweet home

Sarah sudah berada di Puntang terlebih dahulu karena ada pengajian pada malam Sabtu. Sebelumnya saya perkenalkan terlebih dahulu para peserta pendakian ini. Aku sebut saja Genk Puntangers karena ini dari berbagai latar belakang. Fadly dan MP adalah teman SMAku, Sarah adalah teman sejurusanku, Amiril adalah teman sependakian Ge-Pang, Dadan adalah teman SMP Fadly. Rencana awal lebih ramai lagi karena Fadly mengajak temannya, dan temannya mengajak temannya lagi. Namun mereka-mereka tidak jadi hingga tinggal kami berenam. Tapi ada tambahan 2 orang lagi yang menyusul, yaitu Bilvy alias Adung dan Ervan, adik angkatan di SMA.

You see the mountain behind us? The peak behind. Yes, We've been there.

Foto itu diambil sebelum pendakian dimulai. The peak behind, that's Mega Peak, our target. Rute pendakian ternyata kurang bersahabat bagiku. Hegheg. Jalur pendakian selalu menanjak dan cukup sulit dilewati dengan hanya sesekali terdapat tempat datar untuk beristirahat. Beberapa kali kami bertemu dengan rombongan yang turun. Ada yang bilang di atas sudah penuh, tidak ada tempat lagi untuk nge-camp, dan setiap bertemu rombongan berbeda di waktu berbeda selalu dikatakan 2 jam lagi sampai puncak.

Info mengenai lokasi camp yang penuh membuat kami berpikir kembali untuk memutuskan dimana akan mendirikan tenda. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan camp di Batu Kaca, ya sekitar Batu Kereta.

Our tent. The photo was taken before down the mountain.
Menu dinner kami adalah Nasi Goreng Mawut Indof**d. Nasi sudah dibawa dari rumah, dicampur dengan mi, sosis sapi, dan baso sapi. Kornet sapi disajikan terpisah. Bumbu siap saji dan mi dicampur saat pembuatan nasi goreng. Hmmm,, Ya, it's delicious for fast food. Setelah makan malam, dilanjutkan dengan ngobrol, saling mengenal dan bercerita. Bertemu dengan orang baru sering memberi kesan tersendiri. Kita jadi semakin mengetahui jenis-jenis makhluk ciptaan-Nya. Dahulu aku hanya sekedar tahu, "Oh, itu Amiril." Dan malam itu aku semakin mengenal dirinya, visi hidupnya, mengapa dia suka naik gunung, serta pengalaman-pengalaman hidupnya yang tidak biasa, cukup menarik. Hegheg. Waktu sesingkat ini tidak mungkin cukup untuk bisa benar-benar mengenal semuanya, terutama Mas Dadan, orang yang baru pertama kutemui. :D I just know about Cigondewah from him.


Candle light dinner

Satu hal yang selalu kutanti saat mendaki gunung adalah bertemu dengan another little stars in the sky. Sayang, beberapa daun-daunan menghalangi pemandangan indah ini. But no problem, just met with them closer made me so happy. :)* 

Satu hal lagi yang sangat disayangkan adalah bintang-bintang di langit ini tidak bisa diabadikan gambarnya dengan kamera biasa. Namun, inilah yang membuatku bersyukur karena bisa melihat dan bertemu langsung dengan mereka. Mungkin memang begitu takdirnya, aku harus berusaha keras untuk bisa melihat dan lebih dekat dengan mereka.

Kami berencana untuk berangkat ke puncak esok hari habis subuh karena kagok waktu subuh. Dan.... Di tengah waktu beristirahat, kebiasaanku tidak bisa tidur dengan nyenyak, tiba-tiba terdengar suara dari luar tenda dan menyenteri tenda kami. Kukira itu adalah Adung dan Ervan yang berkata akan menyusul. Namun aku ragu untuk menyapa mereka. Padahal rencana awalnya mereka mau nebeng tenda.

Adzan subuh kurang terdengar jelas dari tenda. Apalagi udara dingin membuat orang-orang malas keluar dari kepompongnya. -__- Yaaa, sudah bisa ditebak lah ya. Kalau berangkat habis subuh pasti tak keburu sunrise. Hegheg. 

Salah satu kelebihan dengan camp di tempat ini adalah tidak terlalu dingin dan berangin, serta tidak perlu membawa banyak barang saat summit. And YES!! My dream come true. Yes, my dream to take a picture like the first photo in this article.

Puncak Mega, 2223 Mdpl
Disinilah kami bertemu dengan Adung-Ervan dan melanjutkan perjalanan bersama-sama. Mereka tidur di puncak dengan beratap langit. Ya, aku dan fadly sebenarnya menyadari kehadiran mereka. Namun kami sama-sama diam. Haghag. Padahal ada 1 tenda nganggur. Tapi memang sepertinya mereka juga lebih memilih ditakdirkan seperti ini.

Ntahlah. Selalu ada rasa di hati untuk pensiun dari hobi ini. Namun ntah kapan. Ini memang puncak pertama sebagai sarjana, ntah akan ada puncak berikutnya atau tidak. Namun sedikit terlintas keinginan untuk silaturahim lagi dengan Genk Puntangers dalam perjalanan ke Puncak Haruman, tetanggaan dengan Puncak Mega.






Sahabat selamanya

Aku ingin bercerita salah satu kebahagiaan terindah dalam hidup. Yaitu ketika melihat perubahan sahabat menjadi lebih baik dan diberi Tuhan kesempatan untuk bertemu dengannya melihat secara langsung perubahan itu. Aku mengenalnya sekitar 9 tahun yang lalu. Dahulu aku dan dia duduk sebangku saat sekolah. Bahkan kami pernah ngeceng orang yang sama. Dan yang masih kuingat adalah shalat dluha bersama saat jam istirahat. Tuhan menakdirkan kami bersahabat. Sayang, hanya 2 tahun kami berada di kota yang sama. Kami dipisahkan oleh jarak yang tak dekat. Komunikasi pun tak seintens dahulu. Kami bertemu dengan teman-teman baru yang mengisi hari-hari baru.

Suatu hari, aku mendapat kabar bahwa ia akan melanjutkan studinya di Bandung. Inilah takdir Tuhan. Kami dipertemukan kembali di tempat berbeda. Dan tiba saat aku bertemu dengannya. Awalnya memang agak kaku karena sudah lama tidak bertemu. Namun satu kebahagiaan yang kurasakan adalah kami sama-sama sudah hijrah. Subhanallah. Di saat komunikasi kami berkurang karena berpisah, ternyata saat itu pula Tuhan melunakkan dan membukakan hati kami untuk menjadi seorang muslimah yang lebih baik.

Kami memang tidak tinggal di satu kota. Aku di Cimahi, dia di Bandung. Namun jarak ini sudah jauh lebih dekat dibandingkan dahulu. Namun, tetap saja kami tidak sering bertemu. Ya walau sekali-kali bertemu, aku bersyukur karena merasakan cinta yang terus mekar seiring berjalannya waktu. Benih-benih cinta pada sahabat lama semakin terasa. Ah, aku sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. Semoga rasa ini tidak mudah pudar, sahabatku. Sebuah hadis mengatakan bahwa salah satu dari 7 golongan yang dijamin masuk surga adalah dua orang yang saling mencintai karena ALLAH. Kuharap kita termasuk golongan itu. Kehidupan dunia hanya sebentar, sahabatku. Mungkin kita punya cara masing-masing untuk sukses. Semoga walau caranya berbeda, namun berakhir di surga yang sama. :)
Ana uhhibbuki fillah.. Insya ALLAH...


Cemburu

Selalu saja ini terjadi. Bertemu denganmu dan kita berbincang tentang kesibukan masing-masing. Dan aku selalu cemburu. Aku iri dengan kegiatanmu yang selalu positif dan membawa manfaat. Kamu berkata bahwa kamu ingin berhenti menjadi mentor karena malu pada mentee-mentee yang dirasa jauh lebih baik dari dirimu. Di sisi lain aku merasa beruntung sekali menjadi dirimu. Masih diberi kesempatan untuk berbuat baik, menyebar manfaat, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri agar bisa lebih baik daripada mentee. Aku cemburu di saat aku sendiri masih berpikir panjang untuk memenuhi tawaranmu menjadi mentor. Kamu tahu? Hal yang patut kamu syukuri adalah saat kamu masih diberi kesempatan untuk menebar kebaikan lewat lingkaran kebaikan itu. Saat setiap orang di lingkaran itu akan saling memotivasi satu sama lain untuk selalu menjadi lebih baik. Aku cemburu. Cemburu pada sahabatku sendiri. Sahabatku yang sedari dulu selalu membuatku iri. Iri karena sepertinya Tuhan sangat melindungi kamu dari perbuatan buruk. Kuharap aku pun bisa sepertimu.

Wawancara di sebuah perusahaan laboratorium farmasi

3 September 2014
Aku mendapat panggilan lewat telepon dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Bioavailability and Bioequivalence (BA/BE). Ternyata perusahaan ini masih satu grup dengan sebuah perusahaan farmasi Indonesia cukup ternama. Perusahaan ini sedang mencari S1 Kimia untuk posisi Method Development. Aku mempelajari web perusahaan terlebih dahulu, mencari info pada teman yang pernah KP disana, dan mencari informasi dari teman-teman farmasi mengenai ilmu yang berhubungan dengan fokus perusahaan ini. Makasih banyak, ya buat teman-temanku tersayang. :)
 
8 September 2014
Aku bersama 3 teman lainnya datang ke kantornya di Jl. RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Pewawancara adalah Manager Analytical Method Development dan General Manager Operation.  Proses seleksi disini berbeda dengan seleksi pada umumnya. Biasanya psikotes dilakukan pertama kali. Namun disini dimulai dengan wawancara awal, psikotes, lalu wawancara akhir. Manager yang mewawancarai kami adalah lulusan Kimia ITB 2003. Pertanyaan yang diajukan standar, diantaranya mengenai isi CV, pengetahuan tentang perusahaan, perkiraan pekerjaan yang dilakukan jika bekerja disana, prinsip kerja alat, berapa jurnal yang telah dibaca, kemampuan bahasa Inggris, dan kesediaan untuk bekerja disana. Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan pada teman-temanku namun tidak padaku, dan sebaliknya. Pewawancara sempat mengatakan bahwa beliau trauma dengan orang Bandung yang setelah bekerja sekian tahun kemudian keluar untuk kembali ke Bandung. Wawancara berlangsung sekitar 15 menit. Kami diminta untuk menunggu panggilan berikutnya jika lolos tahap ini. Gaji yang diberikan akan menyesuaikan dengan standar gaji fresh graduate perusahaan farmasi Indonesia cukup ternama yang membawahi perusahaan ini.



9 September 2014
Aku mendapat kabar bahwa 2 temanku ditelepon oleh Equilab. Ini dapat menunjukkan bahwa aku tidak lolos untuk tahap selanjutnya. :)

Sang Pemendam Cerita

Tidak semua orang memiliki sahabat yang bisa diajak bicara segala hal, kapan pun dimana pun. Ada orang yang memiliki banyak teman namun tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Dia khawatir salah memilih orang. Itu karena dia butuh teman yang mau mendengar, selalu ada waktu untuk mendengar, dan memberi respon yang sesuai atas ceritanya.

Namun mungkin ada kalanya ia tiba pada saat otaknya jenuh, hatinya gundah karena ingin berbagi cerita. Sebenarnya ada satu tempat untuk bercerita sesuka hati (namun tetap menjaga etika). Ya, blog. Di tempat ini kamu bisa bercerita apapun yang kamu mau. Mungkin blog sangat rela untuk kau curhati sepanjang apapun. Namun mungkin ia tidak bisa memberikan respon balik sesuai yang kau inginkan. Kau ingin orang yang kau tuju membaca tulisanmu, namun blog tidak dapat mewujudkan itu tanpa peran dari manusia itu sendiri.

Hingga akhirnya, ada saatnya Sang Pemendam Cerita memutuskan untuk memilih seseorang yang dipercaya untuk mendengarkan ceritanya. Seseorang yang tidak ceplas ceplos, bisa menjaga rahasia. Ya, sebagai pendengar yang baik kita harus ingat bahwa setiap cerita yang didengarkan padamu adalah RAHASIA, kecuali yang memang diizinkan untuk diberitahukan pada orang lain.

Sang Pemendam Cerita pun memilih seseorang yang ia percayai dan dirasa bisa membantu memberikan solusi terbaik. Ini yang sulit. Mungkin ia pendengar yang sangat baik dan pemberi respon yang baik pula. Namun, belum tentu ia bisa memberikan solusi yang terbaik, bahkan mungkin memberi solusi apapun itu juga tidak bisa. Sang Pemendam Cerita mulai bingung harus bagaimana. Ia pun memilih untuk mencari orang lain yang mungkin bisa membantunya. Maka biarlah waktu yang menjawab apakah orang itu benar-benar bisa membantunya. Jika tidak, Sang Pemendam Cerita mencari lagi orang lain hingga ntah kapan ia menemukan orang yang tepat. Lihatlah apa yang telah ia lakukan. Sang Pemendam Cerita malah membuat semakin banyak orang yang tahu ceritanya. Sang Pemendam Cerita merasa menyesal akan apa yang telah ia lakukan. Padahal awalnya dia berharap hanya satu orang yang bisa menjadi orang kepercayaannya. Namun semuanya telah terjadi. Setidaknya, kini Sang Pemendam Cerita telah menemukan orang yang tepat untuk membantunya mencari solusi terbaik. Selamat, ya. Ini bisa dianalogikan untuk proses pencarian hal lainnya.  
Mungkin kamu akan menemukan hal-hal yang kurang atau bahkan tidak cocok sebelum menemukan sesuatu yang benar-benar cocok untuk dirimu. Bersabarlah dan terus berusaha. :)


Tes perusahaan microfinance

21 Agustus 2014
Hari ini aku mendapat SMS untuk seleksi posisi ODP di sebuah lembaga keuangan non bank skala mikro (microfinance). Aku melamar pekerjaan ini saat jobfair 2 hari sebelumnya di Landmark. SMS panggilan diterima sekitar jam 8 pagi untuk tes pada jam 1 siang di sebuah ruangan seminar yang ada di sebuah masjid Bandung. Waktu seleksi total yang kujalani sekitar 2 jam (pk 13.00-15.00). Sebelum psikotes dilakukan, HRD menerangkan terlebih dahulu bahwa ODP merupakan program yang disiapkan untuk kemudian menjabat sebagai Branch Manager atau Quality Assurance. Branch Manager bukan yang bekerja di kantor dan enak-enakan, melainkan bekerja lapangan dan panas-panasan. Lalu, seleksinya sistem gugur. Training berlangsung selama 3 bulan. Selama training akan ada ujian akhir dan jika nilai <80 dikeluarkan dari program. Jika resign saat training, kena pinalti 24 juta. Setelah lolos training, kontrak kerja selama 2 tahun dengan pinalti 24 juga. Setiap bulan kerja berkurang 1 juta. Jadi, misalnya keluar setelah 1 bulan bekerja, maka pinalti yang dikenakan sebesar 23 juta. Jika tidak berminat, bisa mengundurkan diri dari proses seleksi saat itu juga supaya tidak buang-buang energi. Saat itu aku berpikir, “ya coba dulu saja”.

Tes pertama adalah psikotes hitung-hitungan, waktu mengerjakan 30 menit. Aku merasa cukup mudah mengerjakannya dan selesai sebelum waktu berakhir. Setelah itu, kami diminta menunggu pengumuman di luar ruangan. Hasil pengumuman pun mengatakan 2 orang yang lolos, yaitu aku dan seorang wanita bernama Lusi. Kami pun masuk kembali ke ruangan tes dan mengerjakan psikotes kepribadian. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan wawancara HRD. Isi wawancara diantaranya membahas CV, pengalaman organisasi, keahlian untuk posisi tersebut, pengalaman menghadapi situasi tertentu (situasi yang mungkin dihadapi saat menjabat posisi tersebut), latar belakang keluarga, dan lebih suka kerja sendiri atau tim. Wawancara berlangsung sangat lancar dan mudah bagiku. Hegheg. Ntahlah, mungkin ini karena efek jiwaku lebih cenderung ke hal-hal seperti itu.

26 Agustus 2014
Saya menerima SMS panggilan untuk tahap seleksi berikutnya, yaitu wawancara direktur di lobi Hotel Grand Royal Panghegar pk 09.30. Sembari menunggu hari H, aku banyak mencari info dari orang-orang dan hatiku mulai ragu dengan pekerjaan ini. Kalau dari jenis pekerjaannya, sebenarnya aku suka-suka saja karena memang merasa passionku disitu. Namun, ada kegalauan dalam hati karena orang-orang seperti tidak mendukungku untuk bekerja disana. Selain itu, kebanyakan teman-temanku yang sudah bekerja tidak kena pinalti jika keluar dari perusahaan. Kalau menurut kakak kelasku, kontrak kerja 2 tahun itu terlalu lama. Apalagi ada pinalti. Kontrak kerja yang aman adalah 1 tahun. Aku pun menjadi tidak terlalu bersemangat menjalani tes berikutnya. Aku mempersiapkan apa saja yang perlu kukatakan pada pewawancara. Aku menjadi tidak berharap untuk diterima di perusahaan ini. Namun aku ingin mengikuti tahap wawancara akhirnya untuk pengalaman.

5 September 2014
Sebenarnya aku sudah siap lebih awal dari rumah untuk berangkat ke lokasi. Namun aku memilih untuk datang mepet dengan waktu pertemuan. Aku pun memberi kabar lewat SMS kepada pewawancara tepat waktu. Namun, ternyata pewawancara sedang mewawancarai orang lain sehingga aku perlu menunggu. Ya, namun cukup lama juga. Saat menunggu itu aku bertemu dan berkenalan dengan seorang lelaki yang ternyata juga mau menjalani wawancara yang sama. Namun, ia datang jauh sebelum jadwalnya. Waktu wawancara pun tiba. Pewawancara mengatakan bahwa seharusnya aku yang diwawancara duluan. Namun, ada peserta yang datang duluan (kurasa namun belum pada jadwalnya) sehingga aku harus menunggu. Pewawancara melihat hasil psikotes dan membahas catatan-catatan HRD pada saat dulu aku diwawancarai HRD. Pewawancara mengatakan bahwa rekrutmen dilakukan pula di Surabaya dan Semarang (kalau tidak salah seingatku). Program training akan dimulai awal Oktober. Kupikir, masih cukup lama juga mulainya. Aku bisa sambil menunggu hasil tes-tes yang lain juga. Sepertinya itu dikarenakan cukup banyak pula yang diwawancara. Bapaknya juga mengatakan sedang dibutuhkan kandidat sekian banyak (aku lupa, 20 apa ya). Di akhir, pewawancara menanyakan kembali mengenai peraturan jika lolos dan aku mengatakan keberatan dengan waktu kontrak 2 tahun itu. Sepertinya ini adalah jawaban skak mat. Pewawancara menyatakan akan mereview lagi hasil wawancara dan tunggu kabar kemudian. Hingga saat ini (aku menyelesaikan tulisan ini pada 9 Oktober 2014), aku tidak mendapat kabar lagi dari perusahaan ini. Ya, sesuai dugaanku. Sepertinya jawaban skak mat itulah penyebabnya. Aku bisa merasakan bahwa aku telah melakukan hal yang membuat perusahaan akan memikir-mikir ulang untuk menerimaku. Dari penampilan saja, sudah berbeda dengan saat tes pertama. Penampilan kedua ini bisa dibilang lebih tidak menarik. Haghag.


Cerita masa depan

Inilah pertama kalinya aku menceritakan rencana masa depan lebih detail di depan beberapa teman-temanku karena aku belum bisa menjadikanmu sebagai orang pertama yang mendengarkan rencana bisnisku lebih detail. Namun, lebih lebih mendetailnya lagi aku ingin kau yang mendengarnya pertama kali.

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.

Aku tidak tahu apa pendapatmu mengenai bisnis yang kurencanakan. Aku pun tak yakin kamu memiliki mimpi untuk terlibat dalam bisnis tersebut walaupun aku berharap kamu menjadi orang terpenting bagiku yang terlibat dalam rencana bisnis ini. Karena menjalani bisnis bahkan hanya memulainya pun amat sangat sulit jika hanya sendiri. Dan aku butuh teman yang selalu ada untuk memberi semangat dan bantuan kapanpun kubutuhkan. Kuharap itu adalah kamu. Kamu yang memiliki mimpi yang sama denganku sehingga kita bisa bekerja sama untuk mewujudkan mimpi kita. Kamu yang bisa mengerti aku dan aku yang mengerti kamu agar mimpi ini tak sekedar menjadi bunga tidur, namun menjadi nyata di kemudian hari.

Ya, kamu. Ntah siapa dirimu...

Masih berminat?

Dia telah menunjukkanku akan beberapa sifat aslimu. Aku jadi merasa, 'Pantas saja orang-orang berkata begini begitu tentang dirimu.' Atas segala hal yang baru kuketahui ini, aku menjadi ingin berpikir ulang. Seseorang bahkan berkata, "Masih berminat?" Sepertinya aku perlu mempertimbangkan pertanyaan ini.

Ntah kenapa, aku tidak (atau mungkin belum) dengan lugas menjawab 'Tidak'. Bukan karena ingin memaksakan kehendak. Ingin rasanya melihat perubahan pada dirimu ke arah yang lebih baik. Minimal ada kemauan karena untuk mengubah sifat, karakter, atau bahkan hanya sekadar kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Aku tahu itu. Tapi keinginan untuk melihatmu berubah bahkan turut berperan dalam perubahanmu itu sebenarnya bukan pula hal yang spesial karena pada dasarnya hati ini selalu 'berteriak' saat melihat ada teman apalagi sahabat yang masih memiliki 'kekurangan'. Aku bukan makhluk yang sempurna. Mohon maklumi jika aku memiliki harapan akan perbaikan dirimu ke arah lebih baik sedangkan diriku sendiri masih sangat jauh dari kesempurnaan. Aku tidak ingin ketidaksempurnaanku menghalangi untuk berusaha membuatmu lebih baik.

Tidak ada manusia sempurna. Namun, sudah seharusnya setiap orang memiliki keinginan untuk terus memperbaiki diri. Karena diri yang lebih baik insya ALLAH akan membawa pada kehidupan yang lebih baik pula. Aku berharap kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan. Mungkin aku masih bermimpi untuk bisa mengubah dengan tangan, bahkan hanya dengan nasihat sekalipun. Tapi semoga saja Tuhan masih mengingatkanku padamu dalam do'aku. Mungkin aku bukan menjadi orang yang berperan langsung dalam perubahanmu. Setidaknya aku berharap Tuhan masih berkenan mengabulkan harapanku untuk melembutkan dan membuka hatimu agar bisa menyadari kekuranganmu serta memberi kemampuan padamu untuk berusaha berubah lebih baik. Jika perlu, kuharap Dia mengirimkan orang yang pantas untuk menjadi agen perubahan terhadap dirimu. Tidak perlu atas kontribusiku. Melihatmu menjadi lebih baik saja sudah sangat cukup buatku. :)

Satu hal lagi. Luruskan niatmu. Setiap perbaikan yang kau lakukan, niatkan untuk ALLAH Subhanahu wata'ala. Niatkan dirimu untuk menjadi agen muslim yang baik. Seorang muslim yang menjadikan Rasulnya sebagai teladan hingga dirimu bisa diteladani pula oleh orang lain karena kebaikan yang kau miliki. Jadilah sebaik-baik manusia yang bermanfaat dan menginspirasi orang lain. Hidupmu bukan hanya untuk dirimu sendiri. Perlahan turunkan dan hilangkan egomu, bukalah hati dan mata untuk lebih peduli pada sekitar.

Aku tidak lebay dalam berharap, kan?