Tika bicara CINTA (lagi)?!

Bismillahirrahmanirrahim.

Bedanya dg "Tika bicara CINTA?!", disana sy menggunakan kata ganti org pertama tunggal. Tapi hanya untuk memudahkan apa yg ingin disampaikan. Bukan b'arti sepenuhnya m'ceritakan pengalaman pribadi. Skrg mah menggunakan kata ganti org pertama jamak. Hegheg..
***

Sudah tak dapat dipungkiri lagi masa" remaja adalah saat pemuda-pemudi merasakan yang namanya cinta. Banyak cara yg dilakukan u/ menyalurkan rasa itu. Ada, bahkan banyak yang memilih jalan u/ pacaran. Tapi ada juga bahkan mungkin banyak yg berketetapan hati u/ tidak berpacaran. Tapi patut pula dipertanyakan, apakah hanya dengan komitmen itu berarti kita telah lolos dari ujian??

Bicara ttg cinta, kita tak bisa terlepas dari masalah hati, karena ini menyangkut perasaan. Memilih u/ "Say no to pacaran before nikah" belum b'arti kita telah terlepas dari problema cinta (zz (~_~')).

Ketika mencintai seseorang mungkin kita akan sering terbayang-bayang akan dirinya, merasa sangat senang bertemu dengannya, bahkan ingin memilikinya, tak ingin kehilangan dia, juga mungkin mencari" perhatiannya, berusaha menjadi yg terbaik di hadapannya, dsb.
Coba bandingkan perlakukan kita pada si dia dibandingkan dengan perlakuan kita pada org lain. Biasanya disadari atau tidak, kita memperlakukan org tsb lebih spesial dibanding yg lain. Nah, lo? Patut dicurigakan. Bahkan mungkin sampai terjadi gosip" yg memicu timbulnya fitnah.
Astaghfirullahal'adzim...

"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, & suatu jalan yang buruk." [QS. 17:32]

Apa yg membuat kita seperti itu? Apakah kita takut kehilangan orang yg kita cintai? Apakah kita takut dia berpaling dari kita? Apakah kita takut dia jadi milik orang lain? Apakah.. Apakah.. Apakah..

Lalu, harus bagaimana?
Saudara/iQ, kenapa kita harus takut kehilangan org yg kita cintai? Kenapa kita harus takut dia berpaling pada orang lain? Kenapa kita harus takut dia jadi milik orang lain? Bukankah kita akan bahagia jika org yg kita cintai bahagia? Bukankah kita rela berkorban u/ org yg kita cintai? Bukankah... Bukankah...
Jadi, kita harusnya tetap bahagia walau org yg kita cintai akhirnya harus bersama yg lain.
Hiks,, sedihnya... (Ulah kitu atuh tik, qmu bikin hilang harapan aja.)
Haghaghag... Becanda, becanda.. n_nV

Saudara/iQ, ketika kita jatuh cinta, bersyukurlah pada Yang Memberikan rasa cinta itu. Alhamdulilah, kita masih diberi nikmat untuk bisa mencintai. Tapi, bagaimana wujud syukur kita? Apakah dg mengungkapkan rasa cinta kita pada orang tersebut? Ingin status lebih dari teman?

Saudara/iQ, ingatkah pada kisah Ali & Fatimah? Sungguh kisah yang mengharukan. Ali & Fatimah yg mana ALLAH menakdirkan mereka untuk bersatu, ternyata sebelumnya mereka sama" memendam rasa yg sama. Hingga akhirnya ALLAH pun menyatukan cinta mereka. Subhanallah,, Kesabaran mereka berbuah manis.

Kita harus percaya pada takdir ALLAH. ALLAH akan selalu memberikan yg terbaik untuk hambaNya. Kita tak perlu takut kehilangan si dia. ALLAH tau isi hati kita. Dia tau apa yg kita inginkan, & apa yg kita buthkan. Jika dia yg terbaik, dia gak akan jauh dari kita kok. Jika dia yg terbaik, insya ALLAH kelak kita akan dipertemukan kembali dengannya. Dalam ikatan yang teramat indah malah. =)

Kata sapa gak boleh ingin sekedar jadi teman? Malah jgn tanggung", sekalian jadi pendamping hidup. Boleh donk, berharap kelak dia jadi yg terbaik untuk kita?! (Nah, kalo ini baru ngasih harapan =p). ALLAH Maha Mendengar. Toh, kalo dia bukan yg terbaik, ALLAH akan menggantikan dg yg lebih baik.^^
Yaa,, klo yg udah siap ke pelaminan sih mangga, dienggal we, diantos ulemanna.

Nah, sekarang, u/ yg belum memungkinkan untuk menunaikan sunnah Rasul, menjalankan separuh agama, bersabarlah, berusaha untuk menjaga hati kita agar terhindar dari perbuatan buruk. Kita bisa membentengi nafsu kita dengan shaum, jauhkan dari segala pikiran ttgnya, & perlu juga untuk mengurangi komunikasi yg kurang penting dengannya karena takutnya jadi gak bisa mengontrol perasaan. ;)
Nanti akan ada saatnya untuk memikirkan menuju tahap yg lebih serius. Insya ALLAH. =)

"Dan orang-orang yg tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai ALLAH memberi kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya." [QS. 24:33]

Saya setuju dengan kata org tua sy. Kalo udah nikah, harus keluar dari rumah. Bisa dikatakan, intinya, pernikahan anak berarti saat berakhirnya tanggung jawab ortu thd anaknya.
Jadi, memang butuh p'siapan yg benar" matang u/ memutuskan akan menjalani kehidupan baru dalam tali pernikahan, terutama buat lelakinya, yg akan menjadi kepala rumah tangga.

"Nikah itu lebih menjaga pandangan & lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yg belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena ia adalah pengekang baginya." [Muttafaq alaih]

Wallahu'alam bishshawab...

Smg bisa jadi bahan instropeksi buat kita.

Ya Rabb,, jagalah hati ini agar tak ada yg kucintai melebihi cintaku padaMu.

Kebenaran dtgnya dari ALLAH. Kesalahan dtgnya dari diri sy sendiri. Afwan jiddan. Jazakumullahu khairan katsiraa,,

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2 komeN: