Hak cipta oleh ALLAH Subhanahu wata'ala. Hak tulisan ini oleh Kartika Trianita. Diberdayakan oleh Blogger.
_Jadi teman yang baik itu memang gak mudah, semua pasti butuh proses. Ketika Qta bisa melalui proses itu dengan baik, maka insya ALLAH akan memberikan hasil yang terbaik pula_

tyQa bilang,,,

Setiap bintang akan mengakhiri masa hidupnya entah sebagai supernova, lubang hitam atau pun katai putih. Tapi aq ingin mengakhiri masa hidup sebagai syahid...

Laporkan Penyalahgunaan

Ada kesalahan di dalam gadget ini

About Me

Foto saya

Sekali jatuh, aku akan BANGKIT. Dua kali jatuh, aku akan BANGKIT lagi. Tiga kali jatuh, aku akan BANGKIT lagi & lagi.. Hingga aku jatuh berkali-kali, aku pun akan TERUS BANGKIT!! Hingga aku dapat berdiri tegak dengan IMAN yang kuat.

BUB-BUB! BANGKIT UNTUK BERUBAH, BERUBAH UNTUK BANGKIT!

NASA Image of the Day

Semester pertama di IPB

Awalnya saya berencana menceritakan pengalaman 2 bulan pertama kuliah di IPB. Lalu mundur menjadi 3 bulan pertama. Hingga akhirnya harus m...

Followers

Dibuka berapa kali?

Blog Archive

Cari Blog Ini

Archive

Label

Linkie ♥

Translate

Asma'ul Husna

InstaGram

Instagram

ashR,,,

Pages

Follow me :)

Leave message be4 U go :)

TOEFL Online

Minggu, Januari 14, 2018

Semester pertama di IPB

Awalnya saya berencana menceritakan pengalaman 2 bulan pertama kuliah di IPB. Lalu mundur menjadi 3 bulan pertama. Hingga akhirnya harus mundur lagi jadi semester pertama karena kesibukan yang cukup padat dengan kegiatan akademik di IPB. Oleh karena tulisan ini menceritakan pengalaman 1 semester, maka harap bersabar ya membacanya. 😊

...

4 September 2017 adalah hari pertama kuliah saya di IPB, tepatnya di Jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP), Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA). Awalnya saya berencana mengakhiri masa kerja di bulan Juli sehingga bisa free sekitar sebulan sebelum memasuki dunia kampus. Namun, dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan untuk transisi ke pengganti saya dalam waktu yang singkat, maka hasil negosiasi dengan bosses adalah diperpanjang sebulan. Bahkan, ada beberapa hari kerja di Bulan September karena penggantiku baru masuk akhir Agustus. Saya kira awal-awal kuliah masih belum terlalu sibuk sehingga mudah untuk sesekali masuk kerja. Apalagi rencana awal saya tetap tinggal dengan tante di Jakarta, jadi PP Jakarta-Bogor. Apa mau dikata, kenyataan jauh dari rencana. Saya akan menceritakan semua keresahan dan keterkejutan yang saya alami sejak pindah ke Bogor ini. 

Kampusku di IPB Dramaga
Kampus saya ternyata terletak di Dramaga, Kabupaten Bogor, dimana itu adalah lokasi yang cukup jauh dari pusat kota (sekitar 12 km dari Kebun Raya Bogor). Ini menjadi tantangan tersendiri karena sebelumnya saya tinggal di Kota Metropolitan dengan segala fasilitas yang tersedia. Disini, ojek online pun dilarang melewati batas wilayah. Lebih-lebih lagi, Jl Raya Dramaga yang perkiraanku hanya sepanjang ± 3 km itu merupakan daerah yang sering macet. Saya pernah naik bus Leuwi Liang-Bandung, dari kampus ke ujung Jalan Raya Dramaga menghabiskan waktu selama 45 menit. Perjalanan dari Jakarta (tepatnya Cawang) ke Bogor menggunakan KRL+ojek memakan waktu sekitar 2 jam (kalau lancar). Saya pernah mengalami perjalanan di Hari Senin pagi dengan kemacetan yang luar biasa sehingga sampai delay sekitar setengah jam tiba di kampus. Tidak hanya itu, ongkos perjalanan pun tidak bersaing jika dibandingkan dengan kos di dekat kampus. Maka, dengan berat hati saya harus menyampaikan pada tante saya untuk tidak bisa melanjutkan menemani beliau di Jakarta. Apalagi, walaupun masih awal-awal masuk, sudah banyak kegiatan yang diselenggarakan oleh kampus, ntah itu dari Sekolah Pascasarjana, Forum Wacana (nama BEM pascasarjana IPB), maupun oleh Program Studi. Tubuh ini rasanya tidak kuat jika harus menjalani kehidupan ekstrim yang bisa melebihi ekstrimnya dunia kerja yang baru saja dilepaskan.

Keterkejutan belum selesai. Setibanya di bumi kampus IPB, ex mahasiswa ITB yang dahulunya kuliah di Jl Ganesha ini langsung syok karena besarnya kampus IPB dan kelelahan ketika harus mengelilingi kampus dari satu lokasi ke lokasi lainnya dengan berjalan kaki, apalagi kalau harus membawa gembolan. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan teman SMP waktu di Makassar yang juga kuliah disini. Dia memiliki motor sehingga lelah kaki ini lumayan berkurang.

Pencarian kosan 
Ok then, selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari kosan dan minta dikirimkan motor dari rumah Cimahi. Saya tidak sempat melakukan pencarian kosan dengan intens hingga akhirnya memutuskan untuk kos di suatu rumah di Cibanteng bersama teman sesama alumni ITB. Drama kosan pun dimulai. Saya yang tidak membawa seprai akhirnya menginap di kamar teman dulu. Ketika sudah ada seprai, baru sehari memakai colokan listrik, esoknya ntah mengapa colokan tidak berfungsi. Jadi saya harus menumpang colokan di kamar teman atau sesekali menggunakan colokan dapur. Oke, saya harus segera mencari kosan lain karena memang merasa kurang nyaman di kosan darurat ini. Dengan waktu yang kepepet akhir masa kos, saya berusaha menyambangi kosan demi kosan sepanjang jalan Dramaga dan beberapa kosan yang agak masuk dari jalan raya utama. Ternyata mencari kosan yang sesuai kebutuhan dan keinginan tidaklah mudah. Ketika sudah dapat kosan baru, ternyata disini sangat berisik karena pas seberang SD SMP dan privasi kurang terjaga. Kamu bisa menebak? Saya berencana pindah kosan (lagi). Namun, dengan berbagai pertimbangan – bahkan sempat ingin mengontrak rumah dengan teman – saya memutuskan untuk pindah ke kamar bawah blok sebelah yang lebih tidak berisik saja. Alhamdulillah merasa lebih nyaman walaupun suara adzan jadi ikut-ikutan tidak terdengar.

Motivasi kuliah di IPB
Baiklah, sebelumnya saya akan menceritakan terlebih dahulu motivasi saya kuliah di IPB. Saya berminat untuk menekuni bisnis di bidang pertanian. Hal ini didukung dengan modal berupa sawah yang almarhumah Ibunda tinggalkan di Pemalang. Kenapa saya memilih IPB? Karena IPB dikenal sebagai kampus pertanian, setahu saya adalah terbaik se-Indonesia untuk bidang pertanian. Saya mencoba mencari-cari info kesempatan untuk mengikuti program yang bisa ke luar negeri juga dan ternyata dari website-nya IPB cukup banyak program seperti joint degree atau double degree. Oke, ini menjadi motivasi dan cita-cita saya selanjutnya. Saya memilih jurusan TIP karena terlihat menarik dan kece. Sinopsis pendaftaran yang saya submit ke IPB berisi cita-cita saya membangun pertanian di Pemalang dengan cara menemukan metode yang cocok untuk sistem pertanian di Pemalang. Ketika saya telah menemukan sistem pertanian yang terbaik, saya akan mengaplikasikannya di lahan sendiri terlebih dahulu. Keberhasilan yang (diharapkan) diperoleh tentu saja akan membuat petani-petani lainnya tertarik untuk mengaplikasikannya juga. Dari situlah perkembangan sistem pertanian di Pemalang yang saya cita-citakan (akan) dimulai. Tapi, ternyata cita-cita yang luhur tersebut masih menemui tantangan walaupun saya sudah diterima di IPB. Stay tune, ya untuk tahu alasannya.

Ketika sudah mulai kuliah, saya baru paham kalau status ‘percobaan’ yang disandang ketika diterima di IPB bermakna harus mengikuti matrikulasi dengan mengambil mata kuliah S1 (dalam hal ini saya mengambil 2 mata kuliah). Awalnya saya mengira status percobaan itu karena saya memilih program double degree ketika daftar online gelombang I. Pendaftaran program double degree ini memang hanya bisa diambil untuk yang mendaftar di gelombang I. Ternyata, saya baru memahami juga setelah masuk kalau ada teman-teman kami yang juga mengikuti program double degree dan telah mendapat bantuan dari Pemerintah Aceh. Mereka juga telah memulai kuliah matrikulasi duluan. Baiklah, akhirnya saya tahu kenapa pendaftaran program double degree hanya boleh untuk gelombang I. Tidak hanya itu, saya juga harus bisa menerima bahwa saya telah kehilangan kesempatan mengikuti program double degree. Ada sedikit rasa ‘sayang’ kenapa tidak meminta penjelasan lebih lanjut mengenai program double degree ini sebelum melakukan pendaftaran. Sebenarnya saya masih bisa mencoba program joint degree. Namun saya belum memenuhi kualifikasi skor TOEFL sehingga belum bisa juga untuk mendaftar. Program Matrikulasi diwajibkan bagi mahasiswa yang tidak segaris dengan jurusan S1, atau akreditasi jurusan S1 lebih rendah, atau mata kuliah matrikulasi tersebut belum pernah dipelajari sebelumnya / tidak ada di transkrip. Hal ini baru saya ketahui setelah masuk. Kembali ada rasa ‘sayang’ mengapa saya tidak melakukan konfirmasi dari awal apa maksud status percobaan yang saya peroleh ketika pengumuman diterima di IPB.

Topik sinopsis tesis dan dosen pembimbing
Belum sebulan menghirup kehidupan sebagai mahasiswa magister, kami sudah diminta oleh Departemen (Departemen/Prodi/Jurusan yang saya maksud sama saja) untuk mengumpulkan sinopsis beserta ketua komisi pembimbing yang diajukan. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah bagi kami, terutama yang bukan berasal dari IPB, lebih-lebih lagi untuk anak-anak matrikulasi galau, karena belum mengenal dosen-dosen TIP IPB, bahkan apa itu TIP, ruang lingkup TIP pun masih belum sepenuhnya dipahami. Ya, satu lagi kesalahanku. Tidak melakukan konfirmasi dari awal jurusan apa yang seharusnya aku ambil disesuaikan dengan rencana penelitianku. Rencana penelitianku sebenarnya lebih cocok / masuk ruang lingkup untuk jurusan lain, yaitu Agronomi dan Holtikultura. Saya sempat galau, bahan sampai terpikirkan untuk pindah jurusan. Hal ini sebenarnya bisa saja dilakukan. Namun, dengan segala pertimbangan, saya memutuskan untuk tetap di TIP saja. Untuk mencapai cita-cita awal saya, sebenarnya bisa saja dengan mencoba mengaplikasikan metode-metode yang sudah ada dan dibandingkan performance-nya di lahan Pemalang. Salah satu bujukan dari kantor supaya tidak jadi resign adalah hal pertanian itu bisa saya pelajari dari Divisi Agriculture di kantor. Saya kembali teringat mengenai hal ini sehingga saya pikir saya akan belajar dari teman divisi Agriculture saja untuk cita-cita awal saya. Dari TIP, saya akan belajar hal lain sesuai dengan ruang lingkup TIP.

Perjuangan kembali saya alami ketika membuat sinopsis. Saya memahami bahwa Prodi diberi target agar mahasiswanya bisa cepat lulus sehingga persiapan tesis harus dimulai sedini mungkin. Tapi saya juga berharap Prodi bisa memahami anak-anak galau yang baru masuk kandang baru dimana ia masih kebingungan sedang berada dimana dan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hingga akhir di kandang baru ini. Seharusnya setiap mahasiswa sudah mengetahui apa yang akan ia lakukan untuk tesisnya. Itulah mengapa di awal sudah diminta membuat sinopsis. Namun, dikarenakan saya tidak bisa menjalani sinopsis awal sebagai thesis saya, maka saya harus memutar otak lagi mencari topik tesis baru. Waktu yang diberikan Prodi cukup singkat, sekitar 2 minggu saja. Walaupun Prodi sudah memfasilitasi dengan memberikan perkenalan prodi dan dosen beserta topik yang ditekuni setiap dosen, saya masih belum bisa langsung mendapatkan inspirasi topik baru. Membaca buku pink berisi profil dosen TIP malah membuat saya semakin bingung, merasa seperti berada di kandang yang salah. Bahkan, ketika mendapat informasi bahwa topik-topik yang ada untuk stream proses sangat mirip dengan penelitian di Jurusan Kimia, saya sampai berpikir apakah harus melanjutkan disini jika sebenarnya saya bisa melakukannya di ITB. Jikapun harus melanjutkan perjuangan disini, saya sempat terpikir untuk menjadikan dosen pembimbing S1 saya sebagai dosen pembimbing S2 disini karena hal tersebut memang memungkinkan dilakukan. Waktu begitu cepat berlalu dan deadline sinopsis semakin dekat. Akhirnya saya hanya sempat bertemu dengan seorang dosen dari stream proses dan memutuskan untuk memilih beliau menjadi ketua komisi pembimbing. Sebenarnya Ibu ini sangat baik dan menyenangkan. Apalagi beliau adalah seorang businesswoman yang sukses. Saya bisa belajar banyak dari beliau dan mungkin akan menjadi jalan cita-cita saya menjadi entrepreneur. Tapi, ada keresahan dalam penentuan topik. Stream proses membuat saya harus mengambil topik yang ‘kimia banget’. OMG. Kimia? Lagi? Bismillah, semoga ini yang terbaik.

Beberapa hari setelah pengumpulan sinopsis, kami dipanggil untuk pertemuan dengan seorang dosen yang bertanggung jawab terhadap sinopsis tesis mahasiswa ini. Kami diceramahi karena sinopsis yang dibuat tidak sesuai dengan yang seharusnya berskala magister. Kami pun diminta untuk membuat revisi sinopsis. Suatu hari, tetiba kegalauan kembali merundung diri ini. Di suatu malam, sempat berdiskusi cukup panjang dengan beberapa teman yang berakhir pada keputusan untuk pindah streamWhat??  Ini merupakan hal yang cukup ekstrim, tapi masih mending dibandingkan dengan pindah jurusan. Saya segera mencari informasi apakah ketua komisi pembimbing sudah ditetapkan. Alhamdulillah, BELUM. Saya segera mengisi weekend saya dengan membuat revisi sinopsis. Totally! Karena ini stream yang berbeda.  Parahnya, justru di stream inilah saya belum memiliki pemahaman. Stream proses itu kimia banget, saya sudah menjalani 3 tahun dunia perkimiaan. Stream lingkungan itu dunia kerja banget, saya sudah menjalani 2 tahun 10 bulan dunia pengolahan air yang merupakan bagian dari lingkungan. Lalu yang saya pilih malah stream sistem? Helloooo somebody.. Please tell me what is it! Bahkan sudah mencari-cari informasi ke teman-teman pun, otak saya masih saja belum paham. Bismillah. Saya berusaha mencari topik-topik tesis terdahulu terkait stream sistem hingga akhirnya memilih topik Pengembangan Kawasan Agroindustri di Pemalang. Saya menemukan di internet bahwa Pemerintah Pemalang memiliki program untuk menambah kawasan agroindustri. Walaupun saat itu saya tidak mengerti dengan metodologi penelitian yang dilakukan untuk mencapai tujuan, mungkin seiring berjalannya waktu akan mengerti. Materi stream sistem itu sangat abstrak. Bayangkan anak sains murni tiba-tiba masuk ke dunia yang abstrak. Rasanya seperti tiba-tiba disuruh menghabiskan capcay (ini sungguh pernah saya alami).

Oke then, kegalauan belum berakhir. Selanjutnya saya harus memilih dosen pengganti. Drama pencarian dosen pengganti dimulai. Ada seorang dosen TIP yang dipindahkan ke Sekolah Bisnis. Dari awal sebenarnya saya tertarik untuk menjadikan beliau sebagai dosen pembimbing. Namun, awalnya diisukan bahwa beliau tidak bisa menjadi ketua pembimbing. Namun, tiba-tiba saat pengumuman slot dosen pembimbing, ternyata beliau masih ada slot. 1 mahasiswa untuk ketua pembimbing S2. Suatu hari, beliau masuk kelas untuk mengajar suatu mata kuliah. And WOW, appearance beliau sangat berbeda dengan foto jadul yang beredar. Beliau sosok yang tinggi, gagah, berisi, tampan, dengan kharisma yang memancar dari awal hingga akhir kuliah. Okay, saya pun terpikirkan untuk mengajukan diri ‘melamar’ beliau menjadi ketua pembimbing. Dalam hati saya berkata, “Slot 1 mahasiswa itu adalah aku.” Qadarullah. Berita buruk saya terima saat pencarian nomor HP beliau. Ternyata ada teman saya yang telah menyalip ‘melamar’ beliau, langsung setelah kuliah perdana dengan beliau. Dan, DITOLAK. Kamu tahu apa yang saya pikirkan? Menyerah begitu saja? Oh no, it is not me. Saya tetap mencoba menghubungi beliau dengan kata-kata yang diatur sedemikian rupa berharap bersambut baik. Nyatanya, DITOLAK (juga). Keukeuh sih anaknya. Setidaknya saya mengetahui itu setelah ber-ikhtiar (menghibur diri). Saya mencoba baca-baca lagi buku pink untuk mencari inspirasi dosen pembimbing. Bismillah. Sinopsis dan nama dosen pembimbing revisi saya submit ke prodi. Saya mencari kontak Bapak S untuk berdiskusi dengan beliau. You know? Bapaknya tidak menggunakan whatsapp. Hmm… Baiklah. Saya bertemu bapaknya dengan seorang teman. Sayangnya, saya tidak menemukan chemistry ketika berdiskusi dengan beliau. Saya pun kembali memutar otak siapa yang sebaiknya saya pilih menjadi ketua pembimbing. Tetiba seorang teman mengingatkan pada Bapak A. Bapak A ini sangat sibuk dengan kegiatan rektorat. Beliau pernah berhalangan mengajar karena prioritas kegiatan rektorat. Kalau saya jadi anak bimbingan beliau, apakah saya bisa mendapatkan perhatian dengan porsi yang seharusnya? Baper. Setelah berdiskusi dengan beberapa teman, saya pun mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah mendapat respon positif. Dalam pikiran saya, yakin bahwa bapaknya akan tetap punya waktu buat saya. Ceileh. Saya kembali ke prodi untuk revisi form pengajuan ketua pembimbing (lagi). Bismillah. Insya Allah ini yang terakhir. Alhamdulillah, saat ini sudah keluar SK yang menyatakan beliau sebagai ketua pembimbing saya. Wish me luck. Setidaknya saya merasa lebih tenang dibandingkan sebelumnya yang kepikiran topik dan dosen kurang sreg di hati. Ketika finishing tulisan ini, Bapak A sudah tidak menjabat sebagai wakil rektor lagi. Namun saya belum tahu bagaimana kesibukan beliau ke depannya.

Perjuangan masih berlanjut dengan pencarian tanda tangan untuk form Komisi Pembimbing. Baru saja IPB dengan University of Sydney mengakhiri proyek kerjasama penelitian di Sulawesi mengenai kakao. Tahun depan rencananya akan diajukan kembali proposal proyek lanjutannya. Oleh karena itu, Bapak A meminta Bapak N, Direktur InterCafe IPB sebagai pembimbing kedua. And you know, Bapak N ini sulit sekali untuk diajak bertemu. So, you can guess that I have not had his signature (until now dimana sudah jauh lewat deadline). Belum lagi, jika memang proyek ini ada lagi, maka saya harus membuat ulang sinopsis dari awal karena ganti topik.

UAS 
Akhir semester ditutup dengan perjuangan UAS. Sebelumnya, saya ingin membahas mengenai jadwal UAS IPB. Jadwal UAS semester 1 tepat saat masuk liburan akhir tahun. Jadwal UAS semester 2 seminggu setelah libur lebaran. Coba bayangkan. Saat orang lain sudah bisa senang-senang dengan liburan akhir tahun, kami disibukkan dengan tugas, UAS take home, dan persiapan UAS tertulis yang sangat menyita waktu. Kemudian, menurut saya libur UAS semester 2 juga kagok karena perantauan muslim seharusnya sangat menginginkan bisa pulang kampung saat lebaran. Namun justru libur panjangnya adalah setelah UAS yang baru dimulai seminggu setelah lebaran. Well, saya berusaha untuk berpikir positif. Kita jadi bisa berlibur di saat low season karena liburan akhir tahun telah berlalu. Untuk waktu lebaran kan memang setiap tahun tidak jatuh pada bulan yang sama terus jadi harus dapat dimaklumi.

Saya adalah salah 1 dari sedikit mahasiswa TIP 54 yg mengambil mata kuliah paling banyak, yaitu hingga 7 mata kuliah. Well, saya tidak sempat mempersiapkan diri untuk tes TOEFL karena masa transisi kerja yang belum selesai. Kurang puas dengan nilai bahasa inggris membuat saya mengambil kelas English, walaupun pada akhirnya saya baru mengetahui nilai English ini tidak masuk perhitungan IP. Pekan UAS berlangsung selama 2 pekan. Namun, jadwal UAS ke-7 mata kuliah ini berada pada Hari Senin pekan pertama dan Hari Senin-Sabtu pekan kedua dengan 1 mata kuliah per hari. Jadwal seperti ini cukup meringankan karena tidak ada lebih dari 1 makul dalam 1 hari. Namun, saya merasa UAS ini lebih sulit dibandingkan dengan UTS padahal UAS adalah penentuan banget. Tapi saya juga merasa kalau kesulitan yang dirasakan banyak mengandung faktor yang seharusnya bisa diatasi kalau persiapannya lebih tepat sasaran. Disini saya belajar untuk lebih strategic dalam mempersiapkan ujian. Hari Jumat adalah hari paling menyesakkan karena saya blank saat ujian statistika. Padahal ujiannya open book dan apa yang saya butuhkan saat ujian sebenarnya ada di catatan saya. Inilah salah satu faktor yang berada di luar kuasa saya. Di hari terakhir UAS, rasanya badan sudah lemas sekali, kemampuan mengingat mulai melemah, dan ternyata soalnya benar-benar no idea untuk menjawabnya. Alhamdulillah itu adalah ujian susulan matrikulasi jadi rasanya tidak begitu nyesek. Namun, setelah UAS makul terakhir, hati rasanya masih belum plong banget, hingga saya menemukan quote ini yang membuat saya lebih lega.

#genap #nazrulanwar

Setiap keputusan yang diambil selalu diiringi dengan resiko yang harus siap untuk dihadapi. Alhamdulillah, sampai saat ini, tidak pernah saya menyesali keputusan untuk meninggalkan dunia kerja yang memberikan banyak kenikmatan materi. Saya belajar untuk menikmati kebahagiaan yang timbul bukan dari materi, saya belajar menikmati kebahagiaan yang timbul ditengah materi yang terbatas, tidak seperti dulu.

Saya juga tidak menyesal mengambil keputusan S2 di IPB. Dari awal saya sudah bertekad jika diterima di IPB, maka akan saya ambil. Dengan segala kegalauan yang saya alami setelah masuk, saya ambil pelajaran yang bisa dipetik untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya. Selalu lakukan konfirmasi. Ini penting. Termasuk di dunia kerja. Jangan berspekulasi karena bisa berakibat buruk ketika spekulasi kita salah.

Saya pernah bercerita dengan teman mengenai kegalauan-kegalauan saya yang aduhay. Satu kata-kata dia yang masih saya ingat kurang lebih, “Berarti hasilnya juga harus worth it, Tik.” Ya, perjuangan yang penuh emosi, menguras tenaga dan pikiran ini seharusnya bisa memberikan hasil yang maksimal, yang menunjukkan bahwa jalan ini memang patut untuk diperjuangkan.

Selalu libatkan Allah Subhanahu wata’ala dalam mengambil sikap dan keputusan dalam hidup. Supaya berkah. Setidaknya, jika pun ke depan jalan yang dilalui ternyata berliku atau hasil tidak sesuai harapan, kita tidak menyesal karena telah melibatkan Allah yang menuntun kita dari awal perjalanan hingga sampai di titik ini. Pasti ini yang terbaik. Jalan terbaik akan selalu Ia mudahkan untuk kita mencapainya.

Well, happy holidays. Sampai jumpa di semester 2. Keep blog-walking untuk update sharing experiences dari saya. ;)


Senin, Januari 01, 2018

Jajak Pendapat 2 - Mengejar passion atau survive

Sumber: http://www.sisternet.co,id/

Passion atau minat dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai hal yang disenangi untuk dilakukan. Menemukan passion adalah hal yang sangat penting karena passion memberikan semangat tersendiri dalam menjalani hidup. Bersyukurlah kamu yang telah menemukan passion sejak dini sehingga lebih awal pula menentukan rencana hidup yang sesuai passion. Tidak sedikit anak-anak muda yang bahkan sudah lulus kuliah pun masih bingung apa minatnya. Dalam hal ini, peran orang tua menjadi penting untuk membantu anak menemukan minat dan bakatnya. Sayangnya, ada pula anak muda yang 'terpaksa' mengikuti keinginan orang tuanya untuk mengambil jurusan yang sesuai dengan trend atau keinginan orang tuanya walaupun si anak memiliki minat di bidang lain. Untuk kasus kedua ini, sayang sekali jika anak dipaksakan untuk menggeluti bidang yang bukan sesuai passion-nya. Padahal, jika ia mendapat dukungan yang kuat, karirnya dalam bidang sesuai minatnya bisa melejit dan cepat mencapai kesuksesan.

Bagi sebagian orang, menemukan passion mungkin bukanlah hal mudah. Sebagian anak pasrah mengikuti trend atau arahan orang tua dan ada kemungkinan baru menyadari bahwa apa yang ia jalani tidak sesuai passion ketika sudah terlanjur menyelam dalam bidang tersebut. Sebagian anak bisa menerima kondisi yang sudah terlanjur basah tersebut. Namun, sebagian lainnya masih ingin mengejar passion-nya, sekalipun dia sendiri belum menemukan apa passion-nya.

Beberapa lembaga memfasilitasi teman-teman yang ingin menemukan minat/passion-nya melalui tes seperti talent mapping atau jenis-jenis tes lainnya yang sama-sama bertujuan menemukan bakat/minat seseorang. Maaf, saya bukan promosi. Namun, lembaga-lembaga ini memang sangat bermanfaat untuk membantu teman-teman yang masih kebingungan dengan passion-nya.

Setelah kita menemukan passion, kita akan lebih mudah menentukan jalan mana yang ingin kita lalui untuk mencapai tujuan hidup. Tapi, seperti kita ketahui bahwa takdir tidak selalu linier dengan rencana kita. Bahkan, jika ternyata saat ini kita sudah berada di jalan yang ternyata tidak sesuai dengan passion, apa yang akan kita lakukan? Menyelesaikan jalan yang terlanjur kita lalui, atau berbalik mundur untuk mengambil jalan lain yang diharapkan lebih baik? Dalam jajak pendapat kali ini, saya menggunakan media sosial facebook, Instagram, dan whatsapp untuk menjadi responden yang merasa salah jurusan ketika sudah menjalani perkuliahan di suatu jurusan kemudian menyadari bahwa jurusan tersebut tidak sesuai dengan minatnya. Alhamdulillah, topik ini tidak terlalu banyak respondennya. Saya harap dikarenakan hanya sedikit yang merasa salah jurusan. 😊

Responden terdiri dari 8 orang, 5 perempuan dan 3 laki-laki. Rata-rata usia responden 26 tahun dengan modus 25 tahun. 8/8 responden memilih survive. Sebenarnya saya berharap bisa dapat responden yang memilih jalur ekstrim, namun sayangnya tidak ada sukarelawan responden tersebut walaupun kenyataannya ada beberapa teman yang berani mengambil jalur ekstrim. But, no problem. Jadi fokus kita kali ini adalah bagaimana supaya survive di jalur yang sedang dijalani. Memilih putar balik dan mengambil jalur lain adalah pilihan yang sangat berat dan sangat beresiko, dimana tidak ada kepastian seperti apa jalur baru yang akan dilalui. Lebih baik kah? Maka, kebanyakan orang akan memilih untuk survive. Setidaknya ini adalah pilihan yang less risk. Satu hal yang dapat menguatkan seseorang untuk survive adalah motivasi. Lalu, apa saja yang dapat dijadikan alasan untuk survive? Berikut jawaban dari para responden.

1. Menghargai orang tua
3/8 responden menjadikan orang tua sebagai motivasi utama. Orang tua yang sudah mengeluarkan biaya untuk kuliah kita dengan jerih payah mereka tentu saja mengharapkan kita bisa menyelesaikan studi dengan baik. Sayang dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Walaupun tidak menutup kemungkinan juga untuk kita melakukan negosiasi dengan orang tua.

2. Passion bisa ditumbuhkan
Pada dasarnya, cinta bisa dibangun kan? Begitu pun dengan passion. Kita bisa menyukai jalan yang sedang kita lalui ketika kita melihat kebaikan-kebaikan dan hal-hal menarik disana. Ini yang bisa menjadi motivasi buat diri kita untuk terus maju. Toh kita juga tidak bisa mengatur kehidupan ini harus selalu seperti keinginan kita, kan? Ada kalanya kita harus menerima takdir dan menyadari bahwa ini adalah jalan terbaik dari-Nya. Ada begitu banyak macam jurusan di perguruan tinggi. Sebagian besar anak SMA hanya memahami jurusan-jurusan yang umum saja, seperti dokter, engineer, guru, dosen, peneliti, psikolog. Mungkin kebanyakan dari mereka juga memilih jurusan karena ikut-ikutan trend. Oleh karena itu, dalam hal ini sangatlah penting untuk guru-guru membantu anak didiknya menemukan passion mereka alias membantu mereka dalam memilih jurusan yang tepat.

3. Passion bisa bisa dilakukan kapan saja
Passion seumur hidup bisa dilakukan kapan saja, tidak harus melalui kuliah, misalnya dengan cara bergabung dalam suatu komunitas. Jika saat ini kita sedang fokus dalam kuliah atau pekerjaan yang tidak sesuai passion, maka kita tetap dapat menjalani passion di luar kuliah atau pekerjaan, misalnya dengan bergabung dengan komunitas tertentu. Awalnya bisa menjadi sambilan. Namun ketika kita sudah punya back up yang lebih kuat, selanjutnya dapat dipertimbangkan untuk memberikan porsi lebih besar pada passion kita, bahkan hingga menjadikan passion yang sudah mulai berjalan tersebut sebagai fokus utama.

4. Multitalent? Why not.
Survive sambil menjalani passion? Why not. Lakukanlah hal-hal yang merupakan passion kamu paralel dengan kondisi survive yang sedang kamu jalani. Dengan begitu, hidup kamu akan lebih berwarna. Menjalani love what you do sekaligus dengan do what you love adalah sesuatu yang luar biasa. Ini akan membentuk pribadi kita menjadi jauh lebih baik, tidak egois hanya memikirkan kesenangan diri sendiri. Kita juga bisa menjadi multitalenta karena mempelajari beberapa hal sekaligus.

5. Dukungan dari lingkungan
Teman seperjuangan sepenanggungan dapat menjadi motivasi yang meyakinkan bahwa kita tidak sendiri. Sesama teman dengan kondisi yang sama atau mirip dapat saling memotivasi satu sama lain hingga akhir supaya apa yang sedang dijalani dapat diselesaikan dengan baik.

6. Sadari peran kita

Mungkin kita perlu bermuhasabah sejenak. Tanyakan pada diri kita, “Mengapa kita berada disini? Apa maksud Allah menempatkan kita di jalur ini?” Ini adalah hal yang tidak kalah penting. Menyadari peran kita. Allah menakdirkan sesuatu pasti karena ada maksud tertentu dan kita perlu mencari tahu hal tersebut. Mungkin kita tidak minat disini tapi justru punya bakat di jalan ini? Allah lebih tahu potensi dirimu. Mungkin Allah akan mempercayakan suatu amanah untuk kamu selesaikan di masa depan dan kamu harus berada disini sekarang sebagai bentuk persiapan sebelum memegang amanah tersebut.

Jika kita percaya bahwa apa yang ditakdirkan Tuhan adalah pasti yang terbaik, maka kita tidak akan menyesali apa yang kita peroleh saat ini. Justru seharusnya kita bersyukur. Mungkin kita hanya butuh waktu untuk menemukan hikmah dari perjalanan kita saat ini. Pada akhirnya, kita akan takjub dengan maksud-Nya menempatkan kita pada situasi saat ini. Saat ini, kita hanya perlu tetap berpikiran positif dan yakin bahwa Tuhan akan mengantarkan kita pada takdir terbaik, lewat jalan ini.


First posting in 2018,
1 Januari 2018 / 13 Rabiul Akhir 1439H
Diselesaikan dalam perjalanan kembali ke rantau, Kab. Bogor.


Sabtu, Oktober 21, 2017

Jajak Pendapat 1 - Lebih shalih siapa?

Jajak Pendapat 1
Lebih baik mana, calon suami atau calon istri yang lebih shalih?

Teorinya, suami adalah imam bagi istri dan keluarganya. Dengan begitu, sudah sepantasnya suami memiliki ilmu dan pengamalan yang lebih baik agar bisa menjadi contoh bagi keluarganya. Namun, salahkah jika seorang lelaki  berjodoh dengan wanita yang lebih baik, misalnya seorang preman yang berjodoh dengan wanita hafidzah anak ustadz? Siapa yang bisa memastikan bahwa wanita penghafal Al-Qur’an itu lebih baik daripada si preman? Bukankah setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing? Bukankah hanya Allah saja yang berhak memberikan penilaian?

Dalam survey kali ini, saya mengumpulkan pendapat dari para lelaki dan wanita mengenai kecenderungan awal hati mereka dalam memilih pasangan hidup. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah benar bahwa dalam praktiknya pun lelaki memang diinginkan lebih shalih daripada wanitanya.

Pertanyaan untuk lelaki:
Prefer calon istri yang lebih shalih atau si lelaki harus lebih shalih daripada calon istrinya?

Pertanyaan untuk wanita:
Prefer calon suami yang lebih shalih atau tidak masalah jika calon wanitanya yang lebih shalih?

Shalih disini tidak ada parameter baku yang saya ditentukan. Jadi bisa dibilang subjektif sesuai penilaian diri masing-masing saja. Mengapa saya sebut seperti ini? Karena setiap orang punya penilaian masing-masing terhadap calon pasangannya dengan parameter yang sesuai penilaiannya. Si A menilai keshalihan dari intensitas ibadah mahdhah. Si B menilai keshalihan dari akhlak dalam pengamalan agama, misalnya dalam keteguhan untuk tidak menyentuh yang bukan mahramnya. Si C menilai keshalihan dari cara seseorang menjaga pandangan dan hubungan dengan lawan jenis sehingga tidak bersifat playboy atau playgirl.

Responden diminta untuk tidak terpengaruh dengan kondisi lingkungan yang bisa membuat bingung dalam menjawab pertanyaan survey. Mungkin bagi beberapa orang akan sulit untuk memilih satu dari dua pilihan jawaban yang diajukan. Hal ini bisa dikarenakan orang tersebut sudah pernah memiliki pengalaman yang membuat mereka lebih toleran dalam memilih. Mau tidak mau, pengalaman ini memberikan pengaruh dalam menjawab pertanyaan dan responden pun tidak bisa dipaksa untuk tetap memilih satu pilihan. Dalam survey ini, saya hanya memasukkan responden yang bisa memberikan kecenderungan pada satu pilihan saja. Jawaban tidak ada yang salah karena setiap jawaban memiliki alasan masing-masing. Pada dasarnya, kalau sudah cinta, harus bisa menerima kondisi masing-masing, baik kelebihan maupun kekurangannya, kan? 😊


Pertanyaan diajukan lewat media sosial whatsapp dan facebook penulis sehingga dapat dipastikan > 80% responden adalah orang yang cukup dikenal oleh penulis. Total responden sebanyak 23 orang dengan jumlah responden laki-laki 11 orang dan jumlah responden wanita 12 orang. Usia responden berkisar 23 – 29 tahun, dengan rata-rata usia 25 tahun.


Dari hasil survey, 7/11 lelaki prefer jika dirinya lebih shalih daripada calon istrinya. Alasan utama adalah karena lelaki merupakan pemimpin bagi keluarga sehingga harus bisa mengarahkan keluarga sesuai tuntunan agama. Tidak menampik pula bahwa mereka merasa malu/gengsi jika tidak lebih shalih dari calon istrinya. Kemudian, karena keshalihan pula yang menjadi parameter wanita dalam memilih pasangan hidup.

Sebaliknya, 4/11 responden lelaki prefer jika calon istri lebih shalih daripada dirinya. Lelaki yang memilih jawaban ini sebagian adalah tipe yang suka ber-fastabiqul khairat (bersaing dalam kebaikan), dimana istri yang lebih shalih akan memotivasi dirinya supaya menjadi sosok yang lebih baik. Alasan lainnya adalah karena wanita merupakan faktor dominan kokohnya rumah tangga. Kita sering dengar bahwa wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tentu saja seorang lelaki tidak menolak jika berjodoh dengan wanita yang lebih shalih dari dirinya. Wanita dengan segala kelebihannya itu dapat dengan mandiri mendidik anak-anaknya di rumah walaupun suami sibuk di luar rumah. Tentu dalam hal ini suami akan merasa lebih tenang karena ada sosok yang sudah ia yakini dapat menjalani tugasnya lebih baik dari apa yang ia perkirakan. Lelaki juga berpendapat bahwa wanita yang lebih shalih akan lebih mudah diarahkan dan dinasihati. Tentu saja hal ini bergantung juga dari kepribadian personalnya, ya. Kemudian, istri yang lebih shalih diharapkan dapat menjadi pengingat ketika suami melakukan kesalahan. Di balik imam yang baik ada makmum yang senantiasa mendampingi dan mengingatkan dalam kebaikan. Imam/pemimpin juga bisa melakukan kesalahan, bukan? 😊

Baiklah, sekarang kita lihat bagaimana pandangan dari sisi wanita. 10/12 wanita prefer untuk memiliki suami yang lebih shalih dari pada dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan lelaki diciptakan sebagai pemimpin keluarga dan perlu mengaplikasikan keimanannya dalam kehidupan rumah tangga. Wanita sebagai makmum memiliki sifat bawaan ingin dibimbing. Kebanyakan para wanita beralasan bahwa mereka ingin di-drive untuk menjadi lebih baik. Sebagian wanita berpendapat bahwa bawaan lelaki bersifat superior sehingga suami akan menetapkan aturan dalam keluarga sesuai dengan apa yang ia telah pahami. Tapi, kepala keluarga yang baik tentunya mau menerima masukan dan nasihat dari anggota keluarganya, kan? 😉 Sebagian wanita juga merasa bukan tipe yang bisa menasihati dengan baik. Dia khawatir malah tidak bisa membantu suami menjadi sosok yang lebih baik atau membuat suami merasa tersinggung ketika dinasihati. Tidak menampik pula bahwa wanita mencari suami yang lebih shalih agar tenang hidupnya karena suami akan mengarahkan keluarga ke arah yang baik sesuai tuntunan agama, tidak hanya untuk kehidupan di dunia ini, lebih penting lagi untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

Sebaliknya, 2/12 wanita tidak masalah jika dirinya lebih shalih daripada calon suami. Seseorang yang shalih hari ini belum menjamin esok akan tetap shalih, bukan? Begitu pula sebaliknya, seseorang yang kurang shalih hari ini, masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik, bukan? Kelompok wanita yang memilih jawaban ini dimungkinkan merupakan sosok wanita yang siap untuk membantu membimbing suami menjadi sosok yang lebih baik. Tentu saja suami juga harus siap untuk menerima masukan sehingga kedua belah pihak tidak ada yang merasa tersinggung, melainkan saling berpikir positif bahwa suami-istri bertugas untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Alhamdulillah. Saya selalu merasa senang melihat pandangan dari berbagai sisi sehingga kita bisa memahami pendapat orang lain. Hasil survey menunjukkan bahwa sesuai teori, baik dari sisi lelaki ataupun wanita, lelaki diharapkan merupakan sosok yang lebih shalih daripada pasangannya. Namun, menjadi baik adalah sebuah proses. Bukankah iman itu selalu naik turun? Ada suatu waktu ketika lelaki harus menjadi sosok yang ‘lebih’ daripada wanita, dan ada suatu waktu ketika wanita harus menjadi sosok yang ‘lebih’ dari lelaki. Ada kalanya wanita berada dalam kondisi lemah sehingga suami harus menguatkan. Tidak menampik pula akan ada saatnya lelaki berada dalam kondisi lemah sehingga istri tidak boleh ikut-ikutan lemah. Ia harus bisa menjadi sosok yang menguatkan. Saling menetralkan.

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari sisi A, mungkin wanita memiliki nilai lebih daripada lelaki. Tapi dari sisi B, lelaki memiliki kelebihan daripada wanita. Pada akhirnya, resultan dari plus-minus setiap diri memberikan hasil yang seimbang. Inilah yang bisa disebut jodohmu adalah cerminan dirimu. Seorang hafidz tentu akan lebih pantas jika berjodoh dengan hafidzah. Namun, seseorang yang masih sulit bangun dini hari untuk tahajud, tidak salah juga kan jika mendapatkan pasangan hidup yang rajin tahajud sehingga pada akhirnya mereka bisa sama-sama mengamalkan kebaikan? Yang mana ketika keduanya masih single, kebaikan itu hanya dilakukan oleh salah satu pihak. Tapi ikatan pernikahan menularkan virus kebaikan itu sehingga keduanya akan saling mengisi lubang-lubang kekurangan.

Setelah membaca review ini, saya harap para lelaki akan lebih bersemangat menjadi sosok yang lebih shalih karena memang kenyataannya wanita akan memilih sosok imam yang memenuhi kualifikasi untuk ia berani titipkan masa depannya dirakit bersama. Saya juga berharap para wanita akan lebih bersemangat menjadi sosok yang lebih shalihah karena walaupun kebanyakan lelaki berharap ia lebih shalih dari pada istrinya, para lelaki juga akan mempertimbangkan kualifikasi minimum seorang istri yang menyenangkan dan ia berani titipkan masa depan anak-anaknya kelak.

Wallahu a’lam bishshawab. Mohon maaf atas segala kekurangan dan yang berlebihan dalam tulisan ini. Semoga manfaatnya lebih banyak daripada mudharatnya. Kritik dan saran silakan disampaikan langsung pada penulis.


Bogor, 1 Safar 1439H

Oleh: Kartika Trianita


Senin, Juli 03, 2017

Trust in Allah

Setiap luka akan ada obatnya.
Setiap harapan akan ada jawabannya.
Setiap pengorbanan akan ada hasilnya.

Utk doa-doa yg terus kau panjatkan dan belum terkabul, akankah kau menyerah? Di doa yg telah kau panjatkan ke 98 kalinya, padahal bisa jadi pada doa ke 99 kali akan terkabul.

Utk doa-doa yg tertunda terkabulnya, yakinlah ada saat yg tepat Dia merasa cukup dengan ikhtiar yang kau lakukan. Maukah kau sedikit bersabar untuk takdir yang indah pada waktunya?

Utk kenyataan yg tak sesuai harapan, tidakkah kau merasa bahwa Allah sedang menunjukkan sesuatu yg lebih baik utk kau peroleh? Selama itu masih baik, tidak salah untuk dijalani, bukan?

Maka serahkan pengharapan secara kaffah padaNya. Minta petunjuk dan keridlaan hati menerima yg terbaik menurutNya.

Biarkan Dia menuntun hatimu supaya menerima dengan ikhlash keputusanNya dan menghilangkan segala keraguan.

Jakarta, 9 Syawal 1438H

Minggu, Desember 11, 2016

Warung Mbledos Bandung

Review Warung Mbledos - Pasteur, Bandung

Location: 5/5
Parking: 4/5
Taste: 4/5
Price: 4/5
Service: 4/5

Lokasinya mudah ditemui, berada di seberang Biofarma. Parkirannya cukup untuk sekitar 10 mobil kayaknya kalau ditambah dengan yang di belokan.

Overall rasanya oke. Buatku, kuah tomyamnya terlalu asam. Hihi..

Harganya cukup terjangkau.
Dimsum: 12.5K
Nasi: 4K
Paket Suki Max: 45K
Kwetiau: 12K
Hot cappucino: 8K
Orenji jusu: 10K
Kimono (mix kiwi): 15K

Servicenya oke lah. Kami datang saat sepi dan pas maghrib. Habis solat, makanan sudah ada di meja. Tinggal disempurnakan aja pelayanannya. :)

Foto-foto silakan visit my IG.

#littlestarculinary
#littlestarculinarybandung
#dimsumbandung
#sukibandung
#warungmbledos
#kulinerbandung
#kulinerpasteur

Minggu, Desember 04, 2016

Dimsum Choie

Review Dimsum Choie - Surapati Bandung

Location: 4/5
Parking: 4/5
Price: 4/5
Taste: 4/5
Service: 2/5

Kalau dari arah Pasteur, lokasi terletak setelah Hotel Aston Surapati di kiri jalan. Ada plang bebek, suki, dimsum, masuk ke kiri. Dari luar sendiri gak ada tulisan Dimsum Choie-nya. Parkiran ada di dalam. Mungkin cukup untuk sekitar 6 mobil.

Harga dimsum 1 bakul 18 ribu.
Harga paket bebek 26 ribu.
Harga bakso suki 20 ribu.

Rasa makanannya lumayan oke. Dimsumnya lumayan enak. Bebeknya enak dengan bumbu pedas. Pas cobain bebeknya, ntah mengapa jadi lebih enak makan bebek daripada dimsum. Hihi.

Sorry to say, pelayanannya kurang bagus. Ketika kita datang tidak langsung disapa dan dilayani. Kita yg harus aktif duluan bertanya. Sebaiknya biasakan mengulang pesanan. Saat itu saya gak minta diulang karena masnya keburu caw. Alhasil, gak jadi makan bakso suki. Padahal pengen banget cobain. Kemudian, pesanannya lama datangnya. Padahal saat itu lagi sepi banget.

Kalau ditanya mau gak kesana lagi, sesungguhnya males, tapi mau aja kalau lagi gak dikejar waktu atau laper dan nyantai. Hihi.. Soalnya rasanya lumayan enak. Buat yang belum pernah kesana, saya rekomendasikan untuk mencoba kesana. Itung-itung buat bandingin rasa.

Foto-foto silakan visit my IG pakai hashtag #littlestarculinary.

Punya pengalaman makan dimsum/suki di tempat lain? Share yah. :)

#littlestarculinary
#littlestarculinarybandung
#dimsumchoie
#dimsumsurapati
#dimsumhalal


Jumat, September 30, 2016

Karimunjawa (27-30 Sept 2016)

Yeay! Alhamdulillah, impian ke Karimunjawa dari jaman kuliah akhirnya tercapai juga. Dulu itu mikirin perjalanan yang cukup ribet, belum lagi adanya kemungkinan gak bisa pergi atau pulang dikarenakan cuaca yang tidak mendukung. Bahkan rencana perjalanan kali ini saja sampai gak berani terlalu diceritakan ke orang lain karena takut gak jadi. Hihi...

Empat puluh hari kepergian Bundo jatuh pada tanggal 25 Sept 2016. Kami sekeluarga berencana untuk sekalian melakukan liburan bersama. Setelah melakukan diskusi, kami memutuskan untuk ke Karimunjawa. Segala persiapan kami lakukan dengan searching2 pengalaman orang dan cari-cari penginapan di booking.com.

Buat kamu yang berencana ke Karimunjawa, sebaiknya baca-baca dulu pengalaman orang lain, terutama jika kamu tidak ingin menggunakan jasa travel. Sharing pengalaman kami berikut ini mungkin bisa membantu kamu dalam membuat itinerary. :)
Kalau ada pertanyaan juga boleh disampaikan di comment atau cari saja kontak saya. Haghag.

Awalnya kami mencari tahu tentang jadwal kapal terlebih dahulu. Dalam hal ini saya cuti 5 hari kerja, Senin-Jumat sehingga kami harus menyesuaikan dengan jadwal kapal yang tepat. Sebenarnya kami prefer berangkat dan pulang dari Kendal karena lebih dekat. Namun karena kami bawa mobil sehingga harus start dan finish di pelabuhan yang sama, maka kami memilih Jepara karena jadwal kapalnya lebih banyak dan lebih memungkinkan. Jalur Kendal sendiri lebih sepi dari Jepara. Tapi karena kami datang saat weekdays, jadi di Jepara juga tidak terasa ramai.

Okay, saya akan mulai sharing pengalaman kami sekeluarga (berempat) ke Karimunjawa. Start point saya dari Jakarta, yang lain dari Bandung. Kami bertemu di Pemalang untuk 40 harian Bundo dulu. Kemudian, kami menggunakan mobil sebagai transportasi ke Jepara.


Samudra Hotel, Jepara
Kami sudah booking penginapan di Samudra Hotel yang letaknya di dalam kawasan wisata Pantai Kartini, bersebelahan dengan Pelabuhan Kartini.

Review Hotel Samudra
Plus:
+ Lokasi sangat dekat dengan pelabuhan, jadi keesokan harinya bisa gak terlalu diburu-buru.
+ Kamar tidur dan kamar mandinya cukup besar.
+ Harga murah.
+ Ada parkir mobil, cukup untuk 3 mobil.
+ Staffnya cukup ramah walau setiap mau sesuatu harus dicari dulu karena mereka gak spontan menghampiri ketika kita mendatangi meja resepsionis. Saya cukup senang karena staffnya mau menawarkan pindah kamar.

Minus:
- AC kurang dingin. Setiap kali ingin menginap di hotel biasa dan ingin kamar ber-AC, sebaiknya dipastikan dulu apakah ACnya menyenangkan. Awalnya kami dapat kamar yang ACnya sangat panas, bahkan angin pun kecil sekali. Akhirnya, saya sempatkan untuk komplain dan kebenaran ada 1 kamar serupa yang kosong. Di kamar yang satunya, ACnya lebih baik sehingga kami gak kepanasan. Sayang aja gitu kan kalau sudah pakai kamar AC tapi gak adem. :D

Terdapat penginapan lain di dekat Hotel Samudra tapi kami tidak sempat untuk menanyakan lebih lanjut. Awalnya memilih Hotel Samudra ini karena murah dan ada kamar besar untuk berempatnya.

Malam sebelumnya menyeberang, kami sudah melakukan survei lokasi Pelabuhan Kartini. Pihak Hotel Samudra sempat menyatakan bahwa penitipan mobil di Pelabuhan 70.000/2 hari. Kalau di Hotel Samudra hanya 70.000 sampai kembali. Ternyata, setelah di pelabuhan aslinya hanya Rp 50.000 sampai kembali.

Hari Selasa, jadwal kapal ferry berangkat jam 7 pagi dan kapal cepat berangkat jam 9 pagi. Lama perjalanan kapal ferry sekitar 4 jam, sedangkan kapal cepat sekitar 2 jam. Kami naik kapal Express Bahari berangkat sekitar pukul 9.15 tiba sekitar pukul 11.15. Jadwal penyeberangan dengan kapal bisa digoogling. Pastikan merencanakan jadwal berangkat dan pulang dari Karimunjawa. Kami sendiri sudah merencanakan untuk menyeberang ke Karimunjawa Hari Selasa dan balik dari Karimunjawa pada Hari Jumat. Bagi kamu yang mabuk laut, sebaiknya mempersiapkan antimabuk. Untuk airport sendiri lokasinya cukup jauh dari pusat kota, sekitar sejaman.


Cocohuts Inn
Panorama dari Resto Cocohuts Inn
Setiba di Pelabuhan Karimunjawa (letaknya di timur), sudah ada beberapa penjemput dengan papan nama penginapan masing-masing. Kami menghampiri mas-mas yang memegang papan Cocohuts. Namanya Mas Ridho. Dari Pelabuhan ini, jika kita melihat ke arah bukit, Cocohuts akan terlihat berupa bangunan kayu yang terletak di atas. Ternyata, posisinya memang cukup tinggi. Dari parkiran masih harus naik lagi melewati jalan berbatu ke resto/kamar yang di atas. Kami menempati kamar bungalow dengan extra 1 bed. Kamar itu aslinya cuman untuk berdua. Tapi, isinya ada 2 lantai. Lantai 1 ruang tamu dengan sofa cukup lebar bisa buat tidur, ada TV, VCD player, juga kipas angin. Lantai 2 adalah kasur untuk tidur beserta AC. Ada balkon di lantai 1 dan 2 untuk melihat pemandangan di luar. Cocohuts ini tidak direkomendasikan untuk dikunjungi oleh orang tua. Mungkin kalau menginapnya di kamar yang ada dekat parkiran masih ok. Tapi kalau yang lokasinya di atas kasihan sih kalau orang tua. Hegheg.

Pada dasarnya setiap penginapan punya referensi paket tur laut. Kamu bisa tanya-tanya dan bandingkan harganya. Saat weekdays, seharusnya kamu bisa nego-nego karena pengunjung sepi. Mas Ridho sempat menawarkan paket tour laut private. Sebelumnya kami sudah melakukan komunikasi dengan travel lain, yaitu Pak Anto (pemilik penginapan Wisma Salami). Menurutku, penawaran dari Pak Anto ini yang paling rendah.

Review Cocohuts Inn
Plus:
+ Pemandangan sangat indah dari atas bukit yang tinggi. Hamparan laut membentang dari timur ke barat. Fresh banget rasanya.
+ Bungalownya cocok banget buat keluarga karena ada 2 lantai dan tidak sempit.

Minus:
- Lokasi berada cukup tinggi, tidak disarankan untuk orang tua yang tidak bisa mendaki. Kalau menginap di kamar dekat lobby masih oke. Tapi kalau mau cari wifi baru bisa terjangkau di resto yang letaknya di atas.


Sesuai rencana, kami menyewa motor untuk tur darat. Mas Ridho bertugas di Cocohuts hanya sampai jam 11 sehingga dia ikut tur darat menjadi guide dan tukang foto kami. :D
Kamu bisa lihat di google peta Karimunjawa. Tanpa tour guide pun kamu bisa keliling-keliling sendiri.


Bukit Joko Tuwo
Salah satu spot foto Bukit Joko Tuwo
Namanya juga bukit, jadi letaknya di atas. Hegheg. Perjalanan menuju bukit cukup menanjak. Saat itu ada lalu lalang mobil berat yang sedang melakukan pekerjaan sehingga kami parkir di tempat yang lebih rendah, tapi untuk menuju lokasi perlu menaiki tangga-tangga terlebih dahulu. Di Bukit Joko Tuwo ini ada banyak spot-spot buat foto, seperti foto dengan bangkai ikan hiu, naik ayunan kapal, ayunan biasa dengan pohon tak berdaun, tasbih raksasa, sarang burung, bingkai love, dan foto di balkon. Ohya, di bukit ini banyak jambu mete. Kalau Dady dan kakak2ku sih doyan. Aku kurang sreg karena sepet. Highig.


Bukit Love
Salah satu spot foto Bukit Love
Jalan menuju bukit ini juga cukup menanjak. Bahkan ke bukitnya kami ber5 dengan 2 motor :D
Ada spot foto dengan bendera, ikan kakatua, sarang burung, tulisan Karimunjawa dari batu, dan tulisan Bukit Love. Masuk sini dapat air mineral. Hehe..


Pantai Tanjung Gelam
Spot foto andalan Pantai Tanjung Gelam
Pantai ini biasa menjadi salah satu destinasi tur laut. Namun, kali ini kami menuju kesana dengan motor, datang dari arah timur kita belok kiri. Ada bayarnya tapi saya gak tahu berapa, dapat air minum lagi. ^^
Di pantai ini yang terkenal adalah pohon kelapa melengkung. Kita juga bisa memanjat pohon ini, sudah ada pijakan-pijakan buat manjatnya. Namun agak licin sehingga agak sulit juga manjatnya. Hehe..


Alun-alun Karimunjawa
Menu favoritku, mi ayam baso ikan

Jangan bayangkan alun-alun yang besar seperti biasa kita lihat di ibukota :D
Alun-alun Karimun jawa hanya 1 lapangan sepak bola kecil dengan penjual makanan yang memenuhi hanya setengah keliling alun-alun. Pilihan makanan pun tidak terlalu banyak. Pada hari ini kami kesampaian untuk mencoba mi ayam baso ikan yang tidak kami temukan lagi selanjutnya. Huhu.. Jadi, kalau kamu ketemu sama penjual mi ayam baso ikan ini, saya sarankan untuk mencobanya. Enak, loh. Mi ayamnya juga mi ayam beneran. Haghag (mi bo'ongan kayak apa coba). Mie-nya sesuai dengan mi ayam yang pertama kukenal dalam hidup gitu, lo. Gak kayak mie ayam yang belakangan ditemui, mie-nya beda.


Wisma Apung
View subuh hari di Wisma Apung
Kami menginap di Wisma Apung Ibu Nurul. Pada saat kami kesini, bapaknya Ibu Nurul sedang ada di wisma. Katanya beliau mau memperbaiki ada yang rusak. Bapak ini jg mengisi waktunya dengan memancing. Ikan yang diperoleh dijadikan makanan hiu dan tambahan ikan di penangkaran. Wisma apung ini terletak di laut, sehingga perlu memakai kapal untuk menuju kesana. Kami menginap disini 1 malam saja. Sebelumnya kami berencana 2 malam karena berpikir capek pindah-pindah penginapan terus.

Wisma Apung melayani sekali transportasi gratis dari/ke Wisma Apung. Di luar itu, kalau mau menyeberang dikenai biaya 10.000/orang. Kami menuju Wisma Apung dengan kapal sewaan Pak Anto. Dari pelabuhan Karjaw ke Wisma Apung menaruh barang-barang dahulu sebelum melakukan tur laut. Jadi kami masih punya jatah penyeberangan gratis saat pulangnya.

Review Wisma Apung
Plus:
+ Ada penangkaran ikan hiu, kalau kamu gak sempat ke menjangan besar, kesini juga sudah cukup dan tidak perlu bayar lagi. Kalau ke Menjangan Besar harus bayar Rp40.000 untuk berenang dengan ikan hiu.
+ Bangun tidur bisa langsung nyebur karena lokasinya enak banget di laut yang tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam, kedalaman sekitar 1 meter. Pada pagi hari airnya agak pasang jadi lebih enak untuk rendam-rendam kaki dan berenang. Tapi mungkin buat beberapa orang kurang sreg nyebur disini karena saluran pembuangan kamar mandi langsung ke laut juga.
+ Adem. Bahkan saya yang di kamar AC tapi ACnya tidak dinyalakan pun tidak kepanasan. Cuman ya sayang aja udah bayar dengan harga kamar AC. Haha..

Minus:
- Lokasi jauh dari pusat kota, harus pakai kapal/perahu. Kami sempat kesulitan mencari makan malam karena tidak memesan dari awal sehingga waktu itu ada perwakilan kami yang ke darat untuk mencari makan. Namun jika kita sudah memesan dari pagi/siang, sebenarnya pihak Wisma Apung bisa menyediakan makan malam. Segala sesuatu di Wisma Apung ini berasal dari darat juga. Contohnya saja saat kami belum mendapat handuk, maka Mas2nya harus mengambil ke darat dulu.
- Setiap ada yang jalan di dekat kita akan terasa goyangannya. Apalagi saat itu aku habis mabuk laut jadi rasanya kayak goyang-goyang terus. Haha..
Untuk tour laut, penawaran Pak Anto adalah sbb.
Saya sempat mencoba nego dan diberi penawaran Rp 970.000,-. Kupikir sudah cukup murah karena sudah turun dari kalkulasiku. Sayangnya, kita tidak menegaskan dari awal itinerarynya. Saran saya, buat kamu yang juga ingin private tour, sebaiknya dipertegas breakdown paket tournya supaya tidak merasa rugi ketika actualnya tidak sesuai rencana awal. Jika kamu datang saat weekdays, mungkin kamu bisa mencoba tour yang diprovide oleh Karimun Lumbung karena info dari Dady bahwa mereka tidak membuat kuota minimal agar bisa berangkat tur laut. Jadi walau hanya 1 orang pun tetap jalan. :D
Biasanya, tour laut itu mengunjungi 2 pulau, 2 spot snorkeling, dan 1 pantai sunset. Malam sebelumnya bertemu dengan Pak Anto, sebenarnya kami berencana ke pulau yang di timur karena katanya lebih bagus terumbu karangnya. Sayangnya, ketika kami berangkat, cuaca cukup mendung dan sempat hujan kecil. Angin bertiup dari arah timur sehingga jika mau ke timur akan lebih sulit. Maka rencana pun tetiba berubah menjadi ke barat. Kami sempat menunggu cuaca membaik di Wisma Apung. Ketika sudah cukup cerah, kami memulai perjalanan. Ada 3 tour guides. Di perjalanan, ombak mulai membesar, gerimis, lalu menjadi hujan besar. Kami tetap berada kapal bagian atas sehingga kehujanan. Alhasil, saya malah pusing dan mulai mabuk. Saya tidak mampu berlama-lama snorkeling di spot pertama ini karena mulai mual dan akhirnya muntah juga. -_- #sosad
Bahkan sampai pucat dan menggigil. Pada saat itu, saya merasa benar-benar tak berdaya. Huhu... Maka, saya pun tidak ada foto snorkeling di spot pertama ini.
   

Pulau Cemara Kecil
Kalau lagi surut, ada gosong/gundukan pasir di tengah air laut
Kapal tidak bisa bersandar karena tidak ada dermaga. Jadi, kapal berhenti di tengah laut lalu kita harus berjalan ke pulau.Oleh karena kondisiku sangat lemah, maka saya pun naik kano dan didorong sampai pulau. Saat itu benar-benar situasi yang sangat menyedihkan buatku, bahkan sampai dibopong sama kakakku sampai tempat peristirahatan. Saya langsung tepar di tikar dan istirahat karena sangat pusing. Ketika sudah tidur dan makan, kondisiku mulai membaik. Sedikit masih merasa oleng saja. Disini kami makan siang BBQ ikan bakar ditemani nasi, sayuran, sambal 2 jenis (selalu ada 2 jenis sambal ini di Karimunjawa), semangka, dan kerupuk. Hmm.... Yummy! Mas2nya yang bakarin ikannya sih, kita terima jadi aja. Haghag.
Sebelum tur laut, saya sudah memakai baju untuk basah-basahan di dalam baju kering. Saya sudah siapkan peralatan jikalau nanti perlu untuk ganti baju. Saya sarankan teman-teman juga mempersiapkan baju ganti. Hal ini untuk menghindari kedinginan/masuk angin saat perjalanan di kapal. Jadi saat mampir pulau bisa jemur baju yang basahnya untuk bisa dipakai lagi saat baju satunya gantian basah. Hehe..


Snorkeling
Foto snorkeling paling bagus. Lainnya kayak lagi sirkus. Haha..
Dengan kondisi yang sudah membaik, saya gak mau tur laut ini sad ending. Haghag. Di spot kedua, saya mulai snorkeling lagi dan alhamdulillah dapat foto yang oke juga walau gak bisa berenang. ^,^
Buat kamu yang masih takut/gak bisa berenang, yakinkan diri bahwa ini kesempatan langka yang bisa kamu alami. Jadi sebisa mungkin sempatkan snorkeling dan berfoto sampai dapat foto yang bagus. :D
Siapkan pose terbaik, kalau bisa snorkeling tanpa kacamata juga. Saya pun ada foto tanpa kacamata, tapi karena kerudungnya kurang bagus disitu jadi gak diposting. Hegheg.

Jujur saja, saya sendiri saat snorkeling tidak begitu kelihatan pemandangan bawah lautnya. Ntah karena rabun jg kali. Hag. Jadi baru merasa amazingnya malah setelah melihat hasil fotonya. Haghaghag.


Pulau Menjangan Kecil
Ayunan di air
Pulau ini adalah tempat terakhir tur kami. Disini ada resort dan ayunan yang dibuat di tengah laut. Kami menikmati sunset disini. Setelah itu, kami kembali ke Wisma Apung dan terjadi tragedi kebingungan soal makan malam yang tidak disiapkan sebelumnya. Haghag.


Karimun Lumbung
Kamar berbentuk lumbung yang unik
Disini ada 5 kamar lumbung, semuanya fasilitas AC. Satu lumbung dipakai sendiri jadi hanya ada 4 lumbung available. Kalau lihat di booking.com, biasanya sudah penuh. Tapi ketika kami datang langsung, ternyata masih ada kosong. Jadi, buat kamu yang mau mencoba menginap di tempat lain, bisa coba saja datangi langsung. Lagian kalau di booking.com biasanya tertulis tidak bisa extra bed. Padahal kenyataannya, apalagi saat weekdays, extra bed masih diperbolehkan dan biasanya masih banyak kamar kosong. Saran saya, jika kamu juga mau tur darat dulu saat baru datang, sekalian kelilingin Karimunjawa lihat-lihat penginapan yang ada disana. Siapa tahu tertarik untuk menginap di tempat lain esoknya, bisa langsung tanya-tanya. Kalau malam pertama saran saya sudah booking 1 tempat saja jadi bisa dijemput juga di pelabuhannya karena biasanya setiap hotel/penginapan menyediakan antar-jemput.
  
Review Karimun Lumbung
+ Desainnya unik, cocok buat foto-foto.
+ Dekat dengan pusat kota.
+ Boleh minta minum (teh, jahe, kopi, etc.) sesuka hati. Tapi gak boleh bikin/ambil sendiri jadi ya kitanya gak enak juga kalau mau minta sering2. Haghag. Namun pas pagi hari gak ada petugas, kami akhirnya ambil sendiri juga sih. 
+ Menyediakan tur laut tanpa kuota minimal. Biaya tur laut Rp 170.000/orang.

- Ada nyamuk. Di dalam kamar sudah disediakan semprotan nyamuk juga.
Itinerary kami awalnya mau tur laut 2 hari. Namun, karena semuanya sudah merasa cukup dengan 1 hari tur kemarin dan biaya cukup mahal juga kalau mau 2 hari (kami terlambat tahu Karimun Lumbung menyediakan tur tanpa kuot), maka kami memutuskan untuk sewa motor lagi. Sewa motornya dihitung 24 jam. Kami sewa dari jam 1 siang. Jadi esok harinya masih bisa dipakai. Biaya sewanya sama dengan waktu di Cocohuts. Mungkin kalau dinego juga bisa kali. Tapi, motornya bagusan yang Cocohuts. Highig. Motor Cocohuts masih baru. Sedangkan motor yang kami sewa kedua ini lebih tua dan tidak kuat jalan rusak, esokannya kempes makanya kami gak jadi jalan2 bareng besoknya. ^^''
Dari Karimun Lumbung kita dikasih peta, tapi tur darat yang ingin kami jalani sudah tidak terbaca di peta tersebut karena sudah agak jauh dari pusat kota. Ada 2 pilihan, yaitu arah timur ke pantai sunrise atau ke barat dengan banyak destinasi, hutan mangrove, pantai2, hingga airport. Kami memilih untuk tracking Mangrove dan ke Pantai Annora. Silakan googling atau instagraman dulu sebelum memilih destinasi.
 
Tracking Mangrove
Ada menara di Hutan Mangrove yang bisa dinaikin
Pilihan wisata darat selain yang telah disebutkan di atas adalah tracking hutan mangrove dan beberapa pantai. Kami memilih untuk ke Hutan Mangrove terlebih dahulu. Perjalanan ke arah barat sekitar setengah jam. Awalnya jalanan mulus, makin ke barat jalanan mulai rusak dan sangat tidak nyaman melewatinya. Oleh karenanya, kalau mau ke lokasi melewati jalan rusak ini, disarankan memakai kendaraan yang masih oke.

Panjang track Mangrove ini sekitar 1.3 km. Cocok buat olahraga pagi/sore. Tapi, nyamuknya juga lumayan banyak. Sebaiknya sudah prepare lotion anti nyamuk. Hihi.. Di tengah perjalanan kita akan menemukan menara cukup tinggi untuk melihat pemandangan dari atas. Pemandangan dari atas telihat cukup indah. Pepohonan mangrove yang bertebaran dan hamparan lautan. Disini bisa dijadikan untuk melihat sunset.


Pantai Annora/Hanora
View dari Bukit Anora, indah bangeeetttss
Hari sudah sore ketika kami menuju pantai ini. Ternyata, dari jalan utama masuknya masih cukup jauh dan jalannya agak menyeramkan karena ada yang belum beraspal. Ketika kami tiba disana, suasana pantai sangat sepi. Di pantai ini ada ayunan di atas air dan taman batu kecil.

Ada seorang bapak yang menyarankan kami untuk naik ke bukit. Ternyata, pemandangan dari bukit ini tidak mengecewakan. Lautan jernih berwarna degradasi hijau-biru yang sangat cantik. Aaahh.. Belum pernah melihat yang seindah ini. Masya Allah..

Ohya, ada wisata darat yang tidak kami kunjungi, yaitu Taman Kupu-Kupu. Sebenarnya kami ingin kesana esok hari sebelum kembali ke Jepara. Namun dikarenakan motor satunya kempes dan tidak ada pompa ban yang sudah buka, gak jadi deh.

Kalau Mas Okta belum pesan tiket pesawat balik ke Malay, mungkin kita extend 1 hari lagi disini. :D

Explore Karimun jawa, one of unforgettable journey in my life with my lovely family. Can not wait for our next trip. ;)

Untuk rincian pengeluaran akan ditambahkan segera, ya.
Untuk foto-foto, silakan visit IGku dengan hashtag #littlestarvacation