Warung Mbledos Bandung

Review Warung Mbledos - Pasteur, Bandung

Location: 5/5
Parking: 4/5
Taste: 4/5
Price: 4/5
Service: 4/5

Lokasinya mudah ditemui, berada di seberang Biofarma. Parkirannya cukup untuk sekitar 10 mobil kayaknya kalau ditambah dengan yang di belokan.

Overall rasanya oke. Buatku, kuah tomyamnya terlalu asam. Hihi..

Harganya cukup terjangkau.
Dimsum: 12.5K
Nasi: 4K
Paket Suki Max: 45K
Kwetiau: 12K
Hot cappucino: 8K
Orenji jusu: 10K
Kimono (mix kiwi): 15K

Servicenya oke lah. Kami datang saat sepi dan pas maghrib. Habis solat, makanan sudah ada di meja. Tinggal disempurnakan aja pelayanannya. :)

Foto-foto silakan visit my IG.

#littlestarculinary
#littlestarculinarybandung
#dimsumbandung
#sukibandung
#warungmbledos
#kulinerbandung
#kulinerpasteur

Dimsum Choie

Review Dimsum Choie - Surapati Bandung

Location: 4/5
Parking: 4/5
Price: 4/5
Taste: 4/5
Service: 2/5

Kalau dari arah Pasteur, lokasi terletak setelah Hotel Aston Surapati di kiri jalan. Ada plang bebek, suki, dimsum, masuk ke kiri. Dari luar sendiri gak ada tulisan Dimsum Choie-nya. Parkiran ada di dalam. Mungkin cukup untuk sekitar 6 mobil.

Harga dimsum 1 bakul 18 ribu.
Harga paket bebek 26 ribu.
Harga bakso suki 20 ribu.

Rasa makanannya lumayan oke. Dimsumnya lumayan enak. Bebeknya enak dengan bumbu pedas. Pas cobain bebeknya, ntah mengapa jadi lebih enak makan bebek daripada dimsum. Hihi.

Sorry to say, pelayanannya kurang bagus. Ketika kita datang tidak langsung disapa dan dilayani. Kita yg harus aktif duluan bertanya. Sebaiknya biasakan mengulang pesanan. Saat itu saya gak minta diulang karena masnya keburu caw. Alhasil, gak jadi makan bakso suki. Padahal pengen banget cobain. Kemudian, pesanannya lama datangnya. Padahal saat itu lagi sepi banget.

Kalau ditanya mau gak kesana lagi, sesungguhnya males, tapi mau aja kalau lagi gak dikejar waktu atau laper dan nyantai. Hihi.. Soalnya rasanya lumayan enak. Buat yang belum pernah kesana, saya rekomendasikan untuk mencoba kesana. Itung-itung buat bandingin rasa.

Foto-foto silakan visit my IG pakai hashtag #littlestarculinary.

Punya pengalaman makan dimsum/suki di tempat lain? Share yah. :)

#littlestarculinary
#littlestarculinarybandung
#dimsumchoie
#dimsumsurapati
#dimsumhalal


Karimunjawa (27-30 Sept 2016)

Yeay! Alhamdulillah, impian ke Karimunjawa dari jaman kuliah akhirnya tercapai juga. Dulu itu mikirin perjalanan yang cukup ribet, belum lagi adanya kemungkinan gak bisa pergi atau pulang dikarenakan cuaca yang tidak mendukung. Bahkan rencana perjalanan kali ini saja sampai gak berani terlalu diceritakan ke orang lain karena takut gak jadi. Hihi...

Empat puluh hari kepergian Bundo jatuh pada tanggal 25 Sept 2016. Kami sekeluarga berencana untuk sekalian melakukan liburan bersama. Setelah melakukan diskusi, kami memutuskan untuk ke Karimunjawa. Segala persiapan kami lakukan dengan searching2 pengalaman orang dan cari-cari penginapan di booking.com.

Buat kamu yang berencana ke Karimunjawa, sebaiknya baca-baca dulu pengalaman orang lain, terutama jika kamu tidak ingin menggunakan jasa travel. Sharing pengalaman kami berikut ini mungkin bisa membantu kamu dalam membuat itinerary. :)
Kalau ada pertanyaan juga boleh disampaikan di comment atau cari saja kontak saya. Haghag.

Awalnya kami mencari tahu tentang jadwal kapal terlebih dahulu. Dalam hal ini saya cuti 5 hari kerja, Senin-Jumat sehingga kami harus menyesuaikan dengan jadwal kapal yang tepat. Sebenarnya kami prefer berangkat dan pulang dari Kendal karena lebih dekat. Namun karena kami bawa mobil sehingga harus start dan finish di pelabuhan yang sama, maka kami memilih Jepara karena jadwal kapalnya lebih banyak dan lebih memungkinkan. Jalur Kendal sendiri lebih sepi dari Jepara. Tapi karena kami datang saat weekdays, jadi di Jepara juga tidak terasa ramai.

Okay, saya akan mulai sharing pengalaman kami sekeluarga (berempat) ke Karimunjawa. Start point saya dari Jakarta, yang lain dari Bandung. Kami bertemu di Pemalang untuk 40 harian Bundo dulu. Kemudian, kami menggunakan mobil sebagai transportasi ke Jepara.


Samudra Hotel, Jepara
Kami sudah booking penginapan di Samudra Hotel yang letaknya di dalam kawasan wisata Pantai Kartini, bersebelahan dengan Pelabuhan Kartini.

Review Hotel Samudra
Plus:
+ Lokasi sangat dekat dengan pelabuhan, jadi keesokan harinya bisa gak terlalu diburu-buru.
+ Kamar tidur dan kamar mandinya cukup besar.
+ Harga murah.
+ Ada parkir mobil, cukup untuk 3 mobil.
+ Staffnya cukup ramah walau setiap mau sesuatu harus dicari dulu karena mereka gak spontan menghampiri ketika kita mendatangi meja resepsionis. Saya cukup senang karena staffnya mau menawarkan pindah kamar.

Minus:
- AC kurang dingin. Setiap kali ingin menginap di hotel biasa dan ingin kamar ber-AC, sebaiknya dipastikan dulu apakah ACnya menyenangkan. Awalnya kami dapat kamar yang ACnya sangat panas, bahkan angin pun kecil sekali. Akhirnya, saya sempatkan untuk komplain dan kebenaran ada 1 kamar serupa yang kosong. Di kamar yang satunya, ACnya lebih baik sehingga kami gak kepanasan. Sayang aja gitu kan kalau sudah pakai kamar AC tapi gak adem. :D

Terdapat penginapan lain di dekat Hotel Samudra tapi kami tidak sempat untuk menanyakan lebih lanjut. Awalnya memilih Hotel Samudra ini karena murah dan ada kamar besar untuk berempatnya.

Malam sebelumnya menyeberang, kami sudah melakukan survei lokasi Pelabuhan Kartini. Pihak Hotel Samudra sempat menyatakan bahwa penitipan mobil di Pelabuhan 70.000/2 hari. Kalau di Hotel Samudra hanya 70.000 sampai kembali. Ternyata, setelah di pelabuhan aslinya hanya Rp 50.000 sampai kembali.

Hari Selasa, jadwal kapal ferry berangkat jam 7 pagi dan kapal cepat berangkat jam 9 pagi. Lama perjalanan kapal ferry sekitar 4 jam, sedangkan kapal cepat sekitar 2 jam. Kami naik kapal Express Bahari berangkat sekitar pukul 9.15 tiba sekitar pukul 11.15. Jadwal penyeberangan dengan kapal bisa digoogling. Pastikan merencanakan jadwal berangkat dan pulang dari Karimunjawa. Kami sendiri sudah merencanakan untuk menyeberang ke Karimunjawa Hari Selasa dan balik dari Karimunjawa pada Hari Jumat. Bagi kamu yang mabuk laut, sebaiknya mempersiapkan antimabuk. Untuk airport sendiri lokasinya cukup jauh dari pusat kota, sekitar sejaman.


Cocohuts Inn
Panorama dari Resto Cocohuts Inn
Setiba di Pelabuhan Karimunjawa (letaknya di timur), sudah ada beberapa penjemput dengan papan nama penginapan masing-masing. Kami menghampiri mas-mas yang memegang papan Cocohuts. Namanya Mas Ridho. Dari Pelabuhan ini, jika kita melihat ke arah bukit, Cocohuts akan terlihat berupa bangunan kayu yang terletak di atas. Ternyata, posisinya memang cukup tinggi. Dari parkiran masih harus naik lagi melewati jalan berbatu ke resto/kamar yang di atas. Kami menempati kamar bungalow dengan extra 1 bed. Kamar itu aslinya cuman untuk berdua. Tapi, isinya ada 2 lantai. Lantai 1 ruang tamu dengan sofa cukup lebar bisa buat tidur, ada TV, VCD player, juga kipas angin. Lantai 2 adalah kasur untuk tidur beserta AC. Ada balkon di lantai 1 dan 2 untuk melihat pemandangan di luar. Cocohuts ini tidak direkomendasikan untuk dikunjungi oleh orang tua. Mungkin kalau menginapnya di kamar yang ada dekat parkiran masih ok. Tapi kalau yang lokasinya di atas kasihan sih kalau orang tua. Hegheg.

Pada dasarnya setiap penginapan punya referensi paket tur laut. Kamu bisa tanya-tanya dan bandingkan harganya. Saat weekdays, seharusnya kamu bisa nego-nego karena pengunjung sepi. Mas Ridho sempat menawarkan paket tour laut private. Sebelumnya kami sudah melakukan komunikasi dengan travel lain, yaitu Pak Anto (pemilik penginapan Wisma Salami). Menurutku, penawaran dari Pak Anto ini yang paling rendah.

Review Cocohuts Inn
Plus:
+ Pemandangan sangat indah dari atas bukit yang tinggi. Hamparan laut membentang dari timur ke barat. Fresh banget rasanya.
+ Bungalownya cocok banget buat keluarga karena ada 2 lantai dan tidak sempit.

Minus:
- Lokasi berada cukup tinggi, tidak disarankan untuk orang tua yang tidak bisa mendaki. Kalau menginap di kamar dekat lobby masih oke. Tapi kalau mau cari wifi baru bisa terjangkau di resto yang letaknya di atas.


Sesuai rencana, kami menyewa motor untuk tur darat. Mas Ridho bertugas di Cocohuts hanya sampai jam 11 sehingga dia ikut tur darat menjadi guide dan tukang foto kami. :D
Kamu bisa lihat di google peta Karimunjawa. Tanpa tour guide pun kamu bisa keliling-keliling sendiri.


Bukit Joko Tuwo
Salah satu spot foto Bukit Joko Tuwo
Namanya juga bukit, jadi letaknya di atas. Hegheg. Perjalanan menuju bukit cukup menanjak. Saat itu ada lalu lalang mobil berat yang sedang melakukan pekerjaan sehingga kami parkir di tempat yang lebih rendah, tapi untuk menuju lokasi perlu menaiki tangga-tangga terlebih dahulu. Di Bukit Joko Tuwo ini ada banyak spot-spot buat foto, seperti foto dengan bangkai ikan hiu, naik ayunan kapal, ayunan biasa dengan pohon tak berdaun, tasbih raksasa, sarang burung, bingkai love, dan foto di balkon. Ohya, di bukit ini banyak jambu mete. Kalau Dady dan kakak2ku sih doyan. Aku kurang sreg karena sepet. Highig.


Bukit Love
Salah satu spot foto Bukit Love
Jalan menuju bukit ini juga cukup menanjak. Bahkan ke bukitnya kami ber5 dengan 2 motor :D
Ada spot foto dengan bendera, ikan kakatua, sarang burung, tulisan Karimunjawa dari batu, dan tulisan Bukit Love. Masuk sini dapat air mineral. Hehe..


Pantai Tanjung Gelam
Spot foto andalan Pantai Tanjung Gelam
Pantai ini biasa menjadi salah satu destinasi tur laut. Namun, kali ini kami menuju kesana dengan motor, datang dari arah timur kita belok kiri. Ada bayarnya tapi saya gak tahu berapa, dapat air minum lagi. ^^
Di pantai ini yang terkenal adalah pohon kelapa melengkung. Kita juga bisa memanjat pohon ini, sudah ada pijakan-pijakan buat manjatnya. Namun agak licin sehingga agak sulit juga manjatnya. Hehe..


Alun-alun Karimunjawa
Menu favoritku, mi ayam baso ikan

Jangan bayangkan alun-alun yang besar seperti biasa kita lihat di ibukota :D
Alun-alun Karimun jawa hanya 1 lapangan sepak bola kecil dengan penjual makanan yang memenuhi hanya setengah keliling alun-alun. Pilihan makanan pun tidak terlalu banyak. Pada hari ini kami kesampaian untuk mencoba mi ayam baso ikan yang tidak kami temukan lagi selanjutnya. Huhu.. Jadi, kalau kamu ketemu sama penjual mi ayam baso ikan ini, saya sarankan untuk mencobanya. Enak, loh. Mi ayamnya juga mi ayam beneran. Haghag (mi bo'ongan kayak apa coba). Mie-nya sesuai dengan mi ayam yang pertama kukenal dalam hidup gitu, lo. Gak kayak mie ayam yang belakangan ditemui, mie-nya beda.


Wisma Apung
View subuh hari di Wisma Apung
Kami menginap di Wisma Apung Ibu Nurul. Pada saat kami kesini, bapaknya Ibu Nurul sedang ada di wisma. Katanya beliau mau memperbaiki ada yang rusak. Bapak ini jg mengisi waktunya dengan memancing. Ikan yang diperoleh dijadikan makanan hiu dan tambahan ikan di penangkaran. Wisma apung ini terletak di laut, sehingga perlu memakai kapal untuk menuju kesana. Kami menginap disini 1 malam saja. Sebelumnya kami berencana 2 malam karena berpikir capek pindah-pindah penginapan terus.

Wisma Apung melayani sekali transportasi gratis dari/ke Wisma Apung. Di luar itu, kalau mau menyeberang dikenai biaya 10.000/orang. Kami menuju Wisma Apung dengan kapal sewaan Pak Anto. Dari pelabuhan Karjaw ke Wisma Apung menaruh barang-barang dahulu sebelum melakukan tur laut. Jadi kami masih punya jatah penyeberangan gratis saat pulangnya.

Review Wisma Apung
Plus:
+ Ada penangkaran ikan hiu, kalau kamu gak sempat ke menjangan besar, kesini juga sudah cukup dan tidak perlu bayar lagi. Kalau ke Menjangan Besar harus bayar Rp40.000 untuk berenang dengan ikan hiu.
+ Bangun tidur bisa langsung nyebur karena lokasinya enak banget di laut yang tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam, kedalaman sekitar 1 meter. Pada pagi hari airnya agak pasang jadi lebih enak untuk rendam-rendam kaki dan berenang. Tapi mungkin buat beberapa orang kurang sreg nyebur disini karena saluran pembuangan kamar mandi langsung ke laut juga.
+ Adem. Bahkan saya yang di kamar AC tapi ACnya tidak dinyalakan pun tidak kepanasan. Cuman ya sayang aja udah bayar dengan harga kamar AC. Haha..

Minus:
- Lokasi jauh dari pusat kota, harus pakai kapal/perahu. Kami sempat kesulitan mencari makan malam karena tidak memesan dari awal sehingga waktu itu ada perwakilan kami yang ke darat untuk mencari makan. Namun jika kita sudah memesan dari pagi/siang, sebenarnya pihak Wisma Apung bisa menyediakan makan malam. Segala sesuatu di Wisma Apung ini berasal dari darat juga. Contohnya saja saat kami belum mendapat handuk, maka Mas2nya harus mengambil ke darat dulu.
- Setiap ada yang jalan di dekat kita akan terasa goyangannya. Apalagi saat itu aku habis mabuk laut jadi rasanya kayak goyang-goyang terus. Haha..
Untuk tour laut, penawaran Pak Anto adalah sbb.
Saya sempat mencoba nego dan diberi penawaran Rp 970.000,-. Kupikir sudah cukup murah karena sudah turun dari kalkulasiku. Sayangnya, kita tidak menegaskan dari awal itinerarynya. Saran saya, buat kamu yang juga ingin private tour, sebaiknya dipertegas breakdown paket tournya supaya tidak merasa rugi ketika actualnya tidak sesuai rencana awal. Jika kamu datang saat weekdays, mungkin kamu bisa mencoba tour yang diprovide oleh Karimun Lumbung karena info dari Dady bahwa mereka tidak membuat kuota minimal agar bisa berangkat tur laut. Jadi walau hanya 1 orang pun tetap jalan. :D
Biasanya, tour laut itu mengunjungi 2 pulau, 2 spot snorkeling, dan 1 pantai sunset. Malam sebelumnya bertemu dengan Pak Anto, sebenarnya kami berencana ke pulau yang di timur karena katanya lebih bagus terumbu karangnya. Sayangnya, ketika kami berangkat, cuaca cukup mendung dan sempat hujan kecil. Angin bertiup dari arah timur sehingga jika mau ke timur akan lebih sulit. Maka rencana pun tetiba berubah menjadi ke barat. Kami sempat menunggu cuaca membaik di Wisma Apung. Ketika sudah cukup cerah, kami memulai perjalanan. Ada 3 tour guides. Di perjalanan, ombak mulai membesar, gerimis, lalu menjadi hujan besar. Kami tetap berada kapal bagian atas sehingga kehujanan. Alhasil, saya malah pusing dan mulai mabuk. Saya tidak mampu berlama-lama snorkeling di spot pertama ini karena mulai mual dan akhirnya muntah juga. -_- #sosad
Bahkan sampai pucat dan menggigil. Pada saat itu, saya merasa benar-benar tak berdaya. Huhu... Maka, saya pun tidak ada foto snorkeling di spot pertama ini.
   

Pulau Cemara Kecil
Kalau lagi surut, ada gosong/gundukan pasir di tengah air laut
Kapal tidak bisa bersandar karena tidak ada dermaga. Jadi, kapal berhenti di tengah laut lalu kita harus berjalan ke pulau.Oleh karena kondisiku sangat lemah, maka saya pun naik kano dan didorong sampai pulau. Saat itu benar-benar situasi yang sangat menyedihkan buatku, bahkan sampai dibopong sama kakakku sampai tempat peristirahatan. Saya langsung tepar di tikar dan istirahat karena sangat pusing. Ketika sudah tidur dan makan, kondisiku mulai membaik. Sedikit masih merasa oleng saja. Disini kami makan siang BBQ ikan bakar ditemani nasi, sayuran, sambal 2 jenis (selalu ada 2 jenis sambal ini di Karimunjawa), semangka, dan kerupuk. Hmm.... Yummy! Mas2nya yang bakarin ikannya sih, kita terima jadi aja. Haghag.
Sebelum tur laut, saya sudah memakai baju untuk basah-basahan di dalam baju kering. Saya sudah siapkan peralatan jikalau nanti perlu untuk ganti baju. Saya sarankan teman-teman juga mempersiapkan baju ganti. Hal ini untuk menghindari kedinginan/masuk angin saat perjalanan di kapal. Jadi saat mampir pulau bisa jemur baju yang basahnya untuk bisa dipakai lagi saat baju satunya gantian basah. Hehe..


Snorkeling
Foto snorkeling paling bagus. Lainnya kayak lagi sirkus. Haha..
Dengan kondisi yang sudah membaik, saya gak mau tur laut ini sad ending. Haghag. Di spot kedua, saya mulai snorkeling lagi dan alhamdulillah dapat foto yang oke juga walau gak bisa berenang. ^,^
Buat kamu yang masih takut/gak bisa berenang, yakinkan diri bahwa ini kesempatan langka yang bisa kamu alami. Jadi sebisa mungkin sempatkan snorkeling dan berfoto sampai dapat foto yang bagus. :D
Siapkan pose terbaik, kalau bisa snorkeling tanpa kacamata juga. Saya pun ada foto tanpa kacamata, tapi karena kerudungnya kurang bagus disitu jadi gak diposting. Hegheg.

Jujur saja, saya sendiri saat snorkeling tidak begitu kelihatan pemandangan bawah lautnya. Ntah karena rabun jg kali. Hag. Jadi baru merasa amazingnya malah setelah melihat hasil fotonya. Haghaghag.


Pulau Menjangan Kecil
Ayunan di air
Pulau ini adalah tempat terakhir tur kami. Disini ada resort dan ayunan yang dibuat di tengah laut. Kami menikmati sunset disini. Setelah itu, kami kembali ke Wisma Apung dan terjadi tragedi kebingungan soal makan malam yang tidak disiapkan sebelumnya. Haghag.


Karimun Lumbung
Kamar berbentuk lumbung yang unik
Disini ada 5 kamar lumbung, semuanya fasilitas AC. Satu lumbung dipakai sendiri jadi hanya ada 4 lumbung available. Kalau lihat di booking.com, biasanya sudah penuh. Tapi ketika kami datang langsung, ternyata masih ada kosong. Jadi, buat kamu yang mau mencoba menginap di tempat lain, bisa coba saja datangi langsung. Lagian kalau di booking.com biasanya tertulis tidak bisa extra bed. Padahal kenyataannya, apalagi saat weekdays, extra bed masih diperbolehkan dan biasanya masih banyak kamar kosong. Saran saya, jika kamu juga mau tur darat dulu saat baru datang, sekalian kelilingin Karimunjawa lihat-lihat penginapan yang ada disana. Siapa tahu tertarik untuk menginap di tempat lain esoknya, bisa langsung tanya-tanya. Kalau malam pertama saran saya sudah booking 1 tempat saja jadi bisa dijemput juga di pelabuhannya karena biasanya setiap hotel/penginapan menyediakan antar-jemput.
  
Review Karimun Lumbung
+ Desainnya unik, cocok buat foto-foto.
+ Dekat dengan pusat kota.
+ Boleh minta minum (teh, jahe, kopi, etc.) sesuka hati. Tapi gak boleh bikin/ambil sendiri jadi ya kitanya gak enak juga kalau mau minta sering2. Haghag. Namun pas pagi hari gak ada petugas, kami akhirnya ambil sendiri juga sih. 
+ Menyediakan tur laut tanpa kuota minimal. Biaya tur laut Rp 170.000/orang.

- Ada nyamuk. Di dalam kamar sudah disediakan semprotan nyamuk juga.
Itinerary kami awalnya mau tur laut 2 hari. Namun, karena semuanya sudah merasa cukup dengan 1 hari tur kemarin dan biaya cukup mahal juga kalau mau 2 hari (kami terlambat tahu Karimun Lumbung menyediakan tur tanpa kuot), maka kami memutuskan untuk sewa motor lagi. Sewa motornya dihitung 24 jam. Kami sewa dari jam 1 siang. Jadi esok harinya masih bisa dipakai. Biaya sewanya sama dengan waktu di Cocohuts. Mungkin kalau dinego juga bisa kali. Tapi, motornya bagusan yang Cocohuts. Highig. Motor Cocohuts masih baru. Sedangkan motor yang kami sewa kedua ini lebih tua dan tidak kuat jalan rusak, esokannya kempes makanya kami gak jadi jalan2 bareng besoknya. ^^''
Dari Karimun Lumbung kita dikasih peta, tapi tur darat yang ingin kami jalani sudah tidak terbaca di peta tersebut karena sudah agak jauh dari pusat kota. Ada 2 pilihan, yaitu arah timur ke pantai sunrise atau ke barat dengan banyak destinasi, hutan mangrove, pantai2, hingga airport. Kami memilih untuk tracking Mangrove dan ke Pantai Annora. Silakan googling atau instagraman dulu sebelum memilih destinasi.
 
Tracking Mangrove
Ada menara di Hutan Mangrove yang bisa dinaikin
Pilihan wisata darat selain yang telah disebutkan di atas adalah tracking hutan mangrove dan beberapa pantai. Kami memilih untuk ke Hutan Mangrove terlebih dahulu. Perjalanan ke arah barat sekitar setengah jam. Awalnya jalanan mulus, makin ke barat jalanan mulai rusak dan sangat tidak nyaman melewatinya. Oleh karenanya, kalau mau ke lokasi melewati jalan rusak ini, disarankan memakai kendaraan yang masih oke.

Panjang track Mangrove ini sekitar 1.3 km. Cocok buat olahraga pagi/sore. Tapi, nyamuknya juga lumayan banyak. Sebaiknya sudah prepare lotion anti nyamuk. Hihi.. Di tengah perjalanan kita akan menemukan menara cukup tinggi untuk melihat pemandangan dari atas. Pemandangan dari atas telihat cukup indah. Pepohonan mangrove yang bertebaran dan hamparan lautan. Disini bisa dijadikan untuk melihat sunset.


Pantai Annora/Hanora
View dari Bukit Anora, indah bangeeetttss
Hari sudah sore ketika kami menuju pantai ini. Ternyata, dari jalan utama masuknya masih cukup jauh dan jalannya agak menyeramkan karena ada yang belum beraspal. Ketika kami tiba disana, suasana pantai sangat sepi. Di pantai ini ada ayunan di atas air dan taman batu kecil.

Ada seorang bapak yang menyarankan kami untuk naik ke bukit. Ternyata, pemandangan dari bukit ini tidak mengecewakan. Lautan jernih berwarna degradasi hijau-biru yang sangat cantik. Aaahh.. Belum pernah melihat yang seindah ini. Masya Allah..

Ohya, ada wisata darat yang tidak kami kunjungi, yaitu Taman Kupu-Kupu. Sebenarnya kami ingin kesana esok hari sebelum kembali ke Jepara. Namun dikarenakan motor satunya kempes dan tidak ada pompa ban yang sudah buka, gak jadi deh.

Kalau Mas Okta belum pesan tiket pesawat balik ke Malay, mungkin kita extend 1 hari lagi disini. :D

Explore Karimun jawa, one of unforgettable journey in my life with my lovely family. Can not wait for our next trip. ;)

Untuk rincian pengeluaran akan ditambahkan segera, ya.
Untuk foto-foto, silakan visit IGku dengan hashtag #littlestarvacation


Unforgettable August, 17 2016

Cerita ini dibuat untuk pembaca yang ingin tahu saat-saat terakhir Bundo pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Mungkin cerita perjuangan Bundo yang terdahulu akan diceritakan kemudian.

Sebagian readers tahu bahwa aku sempat berniat mengajukan resign di tempat kerjaku saat ini. Sesungguhnya, alasan utamanya adalah karena aku ingin lebih intens merawat Bundo yang semakin hari kondisinya semakin menurun. Untuk aku yang jarang bertemu, hanya setiap weekend, tentu penurunan kondisi Bundo lebih terlihat karena jarang bertemu.

Sejak sebelum puasa, Bundo sudah masuk RS. Awalnya dikarenakan belakangan butuh waktu lebih lama untuk adjustment kondisi Bundo untuk bisa kemo. Setelah kemo, ternyata kondisi Bundo belum baik sehingga belum bisa pulang. Bundo mulai merasakan sesak. Ternyata, ditemukan bahwa ada cairan di paru-paru Bundo. Semenjak itu, Bundo jadi bergantung dengan oksigen. Pengobatan dilakukan dengan melakukan operasi kecil di punggung untuk mengeluarkan cairan setiap harinya. Proses pengobatan cairan di paru-paru ini cukup lama hingga sebulan berlalu, dua bulan berlalu. Sejak keadaan Bundo semakin menurun, bahkan sudah tidak bisa beranjak dari kasur, harus 24 jam ditemani, setiap weekend pasti defaultnya aku pulang ke Cimahi. Sekitar awal Agustus, cairan paru-paru Bundo mulai berkurang hingga sudah tidak keluar lagi. Sesaknya sudah agak berkurang. Dokter pun mengizinkan untuk bisa rawat jalan dan akan dilakukan home care. Namun, Bundo belum bisa lepas dari oksigen. Jadi, untuk pulang pun kami melakukan persiapan dengan mencari tabung oksigen dan kontak untuk isi ulang tabungnya.

Sabtu, 6 Agustus 2016
Hari ini ada resepsi pernikahan tanteku di Cirebon. Aku menjadi perwakilan keluarga Nurhadi untuk menghadiri resepsi. Jadi, Jumat malam aku bersama tante yang lain berangkat ke Cirebon. Dari Cirebon, aku ikut Mbah dan kelg Oom ke Bandung karena Mbah mau menjenguk Bundo. Sekitar pk 23.30 baru ambulans tiba di rumah karena harus mengurus administrasi terlebih dahulu. Keesokan harinya Mbah kembali ke Pemalang dan aku ke Jakarta.

Jumat, 12 Agustus 2016
Aku pulang ke Cimahi dari Cikarang dengan bus. Aku masih ingat, di perjalanan bertelepon dengan bossku membicarakan sesuatu berhubungan dengan pekerjaan. Beliau juga tahu aku sedang dalam perjalanan ke Bandung dan menitipkan salam untuk Ibuku. Katanya sekitar minggu depan beliau berencana untuk ke Bandung sekalian nengok Bundo.

Setiba di rumah, aku langsung menghampiri Bundo, sosok yang selalu kucari pertama kali setiap weekend saat pulang ke rumah. Aku sempat menyampaikan salam dari bossku dan bilang bahwa bossku ada rencana menjenguk sekitar minggu depan. Tak lama kami berbincang, Bundo langsung bilang, "Bundo mau bobo, ya."

Sabtu, 13 Agustus 2016
Sekitar subuh, Bundo seperti gelisah dan omongannya agak ngelantur. Aku sempat mempertanyakan keadaan Bundo dan kata Dady dia memang seperti itu setiap hari. Nanti agak siangan baru baikan. Namun, ternyata Bundo tetap seperti ngelantur (kurang sadar) hingga malam hari. Aku merasa sangat mengantuk saat belum begitu malam. Aku pun bilang ke Dady untuk gantian jaga denganku, jadi agak tengah malam aku akan bangun untuk gantian jaga. Sekitar setengah 12 malam aku gantian jaga dan saat itu kondisi Bundo masih kurang sadar. 

Minggu, 14 Agustus 2016
Sekitar jam 2 malam Bundo mulai bangun-bangun dan seperti semakin berkurang kesadarannya. Beliau menanyakan aku anak siapa, ini dimana, mau pulang, jangan bo'ong, aku sakit, dst.

Aku sempat menanyakan Bundo mau apa. Biasanya, kalau Bundo sakit atau tidak bisa tidur, minum obat. Aku sempat menawarkan minum obat tapi Bundo gak mau.

Pagi hari, aku sempat tidur karena sangat mengantuk. Jadi, Bundo diurus sama Dady dan Mba Anin. Saat itu, Bundo mulai semakin kesakitan dan sesak. Dia minta segera dibawa ke rumah sakit. Kami pun bergegas untuk persiapan bawaan ke RS. Setiba di RS, Bundo sempat tenang saat di UGD. Setelah dilakukan pemeriksaan darah, jantung, dll, dilakukan pula X-ray. Hasil X-ray sempat ditunjukkan di tempat admin UGD dan terlihat oleh kami dari jauh dokter sedang menjelaskan kepada Dady. Kata Dady, dokter bilang ada flek gitu. Tapi dikembalikan ke dokter yang 'pegang' Bundo untuk klarifikasi lebih lanjut. Persiapan admin pun dilakukan untuk rawat inap.

Ketika pindah ke kamar, Bundo mulai banyak bicara karena kesakitan, "Allah.. Allah.." Aku dan Mba Anin makan siang dan dilanjutkan pulang ke rumah karena aku harus bersiap kembali ke Jakarta. Aku menyempatkan untuk ke RS sebelum kembali ke Jakarta untuk melihat dan pamitan dengan Bundo. Saat itu Bundo masih banyak bicara karena kesakitan/sesak, dan terlihat kurang sadar. Tapi ketika aku bilang mau pulang, Bundo masih bisa bertanya, "Pulang kemana?" Setelah mencium dan minta dicium Bundo, aku pun pergi untuk kembali ke Jakarta.

Sekitar maghrib, melalui whatsapp Dady mengabari bahwa akan dilakukan transfusi darah 4 labu. Aku sempat menanyakan bagaimana hasil cek darahnya namun katanya suster tidak ada info hasil cek darahnya, hanya bilang mau transfusi. Sekitar jam 10 atau 11 malam, Bundo dipasangkan respirator yang bentuknya seperti balon untuk bantuan pernapasan. 

Senin, 15 Agustus 2016
Jam 10 pagi Dady mengabari bahwa dokter yang 'pegang' Bundo bilang bahwa penyebab sesak karena banyak bercak di paru-paru. Kata dokter, tidak ada tindakan untuk paru, semakin lama akan semakin sesak. Dady meminta anak-anaknya untuk carikan pengobatan alternatif. Malam harinya, aku menanyakan kembali kondisi bundo, apakah sudah lebih 'sadar'. Mba Anin sempat mengirimkan foto Bundo lagi makan bubur. Bundo tidak banyak bicara saat itu, hanya diam saja saat makan. Setelah makan, Bundo tidur. Siapa sangka, Bundo tidur dan tidak bangun-bangun lagi sampai dinyatakan meninggal.

Selasa, 16 Agustus 2016
Sekitar setengah 9 pagi Dady bilang kalau dokter habis visit bilang kalau napasnya Bundo berat, apa anak-anak sudah tahu semua, mau dikasih obat mudah2an bisa baik. Dady mulai mengabarkan Mbah dan menanyakan jadwal kegiatan Mas Okta. Sekitar pk 10.30, ada Ustadz yang datang dan berdoa untuk Bundo.

Sekitar jam 3 sore, Dady private massage ke aku bilang kalau tadi pagi dokter bilang kondisi Bundo semakin menurun, keluarga harus siap, harus ikhlash. Mempertimbangkan penyakitnya, kondisinya tidak akan dibawa ke ICU karena di ICU hanya bernapas dengan mesin dan membuat semakin tidak nyaman. Dari ucapan Dady ini aku mulai ingin menangis (bahkan ketika menulis ini kembali). Aku memesan travel Baraya dan alhamdulillah masih ada kuota. Ketika shalat Asar, aku mulampiaskan kesedihanku, benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi. Setelah shalat, aku berusaha untuk tampak biasa karena aku sudah tidak bisa berkata lagi. Di perjalanan, aku tidak bisa menahan air mata yang ingin jatuh. Kebenaran aku mendapat tempat tepat dekat kaca. Kubiarkan air mataku bercucuran hingga mataku mulai terasa berat. Aku sempat tidur sejenak karena kepalaku sudah mulai semakin tidak enak rasanya karena lama menangis.

Aku tiba di RS sekitar jam 10 malam. Ada tante dan Mbah yang sudah tiba duluan. Mbah sempat ingin tidur di RS namun kondisi tidak memungkinkan. Akhirnya, Mba Anin menemani tamu keluarga untuk tidur di rumah. Aku dan Dady yang stand by di RS. Sebelum tidur, Dady bercerita kembali mengenai keadaan Bundo dan mulai membicarakan persiapan jika terjadi 'sesuatu'. Aku kembali mengucurkan air mata sembari tetap berusaha tenang. Suster datang untuk memasang bedside monitor supaya kondisi Bundo terbaca secara real time. Kami mengobrol sampai tengah malam (sekitar setengah 1) hingga akhirnya memutuskan untuk istirahat. Aku sudah tidak tahan dengan kepala yang sudah makin pusing karena menangis terus. Pada monitor terpampang grafik jantung, grafik saturasi oksigen, grafik pernapasan, tekanan darah. Sejak pagi/siang itu tekanan darah Bundo memang sudah rendah. Awal dipasang monitor, kondisi semuanya masih terlihat normal. Aku merasa tertidur sangat lelap sampai tidak menyadari di saat aku tertidur, ada tanteku yang datang untuk menjenguk Bundo, tapi tidak mau membangunkanku.

Rabu, 17 Agustus 2016
Sekitar jam 1 malam, monitor mulai bunyi-bunyi. Awalnya beberapa kali panggil suster, disilent, agak lama baru bunyi lagi. Namun, lama-kelamaan mulai lebih sering bunyinya dan angka-angkanya mulai menurun. Aku mulai tidak bisa tidur lagi dan mulai mengamati Bundo. Kupegang tangannya mulai dingin. Hatiku mulai gelisah. Grafik saturasi oksigen sempat tidak bisa terbaca. Dady sempat mencoba pakai alat terpisah tapi tidak terbaca juga. Yang kuheran, suster juga tidak menampakkan kepanikan. Hingga akhirnya, angka-angka mulai bergerak naik turun dengan cepat. Nafas Bundo juga mulai lebih jarang. Semuanya mulai menurun, hingga akhirnya tidak terbaca dan Bundo lama tidak terlihat bernafas. Suster pun bilang silakan didoain. "Laa ilaaha illallaah." Hiks, air mata mulai keluar, bibir sulit digerakkan. "Muhammadar rasulullaah". Seketika, grafik jantung sempat muncul kembali. Suster yang sedang melangkah pergi sempat kaget karena monitor kembali bunyi. Namun ternyata hanya sesaat. Monitor kembali mati. Mungkinkah saat itu Bundo menyempatkan untuk bersyahadat? Wallahu a'lam. Kuulangi beberapa kali kalimat syahadat di telinganya. Suster memanggil dokter jaga dan sekitar 1.50 Bundo dinyatakan sudah meninggal. Dady langsung menghubungi keluarga di rumah Cimahi. Kami segera menginfokan pula ke keluarga dan teman-teman berita duka ini.

Urusan admin segera diselesaikan sembari ayat-ayat Al-Qur'an dilantunkan oleh keluarga. Bundo dipindahkan menggunakan ambulans ke Rumah Duka yang berada di seberang RS. Kami sudah berpesan juga ke petugas agar disediakan air hangat untuk mandi sesuai pesan yang pernah Bundo sampaikan. Alhamdulillah, RS Borromeus ini menyediakan layanan memandikan jenazah untuk muslim. Kuikuti proses pemandian hingga pemakaian kain kafan.

Sesuai pesan Bundo dari dulu, pemakaman dilakukan di Pemalang, kampung halamannya.Sembari menunggu ambulans Telkom yang dipesan, jenazah diletakkan di sebuah ruangan yang masih kosong di rumah duka. Alhamdulillah, banyak saudara, teman, tetangga yang datang turut berduka, menshalatkan, dan mendoakan almarhumah. Sekitar 9.30 jenazah diberangkatkan ke Pemalang. Aku dan Dady ikut di mobil jenazah. Perjalanan ditempuh hanya sekitar 4 jam tiba di rumah Mbah.

Tak lama setelah tiba di rumah, jenazah dibawa ke masjid untuk dishalati dan langsung dibawa ke makam. Posisi makam Bundo berdekatan dengan makam bapaknya dan 2 kakak yang telah mendahuluinya.

'Bundo, Bundo udah gak sakit lagi. Bundo bahagia kan disana? Ketemu sama bapak yang Bundo rindukan karena gak pernah merasakan kasih sayang bapak dari kecil, ketemu sama kakak-kakak yang sudah mendahului Bundo.'

'Ya Allah, Bundo baik-baik saja kan disana? Tempatkan ia di tempat terbaik dan terindah di sisiMu, ampuni dosa-dosanya, terima semua amal ibadahnya, pertemukan kami kembali di jannahMu, Ya Rabb. Semoga Bundo khusnul khatimah. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.'

'Mas Okta, diantara kita bertiga, aku tahu kamu-lah yang paling terpukul dengan kepergian Bundo. Kamu yang bahkan tidak melihat Bundo sejak lebaran lalu hingga jasadnya telah dimakamkan. Sudah cukup sedihnya. Ini yang terbaik untuk Bundo supaya gak sakit lagi. Dan percayalah, insya Allah nanti kita akan berkumpul lagi sebagai keluarga yang utuh di jannahNya kelak :). Aamiin..'

Di akhir kehidupan Bundo, kami justru tidak banyak bicara dengannya. Bundo koma dalam waktu yang cukup singkat. Tapi pasti ini yang terbaik. Di akhir kehidupan, Bundo tidak sedang meraung kesakitan. Bundo memang tidak sempat menuturkan wasiat-wasiat kepada kami. Tapi beliau sudah menyiapkan buku wasiat yang dari dulu beliau bilang supaya dibuka ketika beliau sudah tidak ada. Kami selalu tidak mempedulikan pesan itu, hanya sekedar didengarkan saja. Makanya tidak ada pula yang tahu persis seperti apa buku itu. Hingga saat kemarin kami kembali ke Cimahi, buku itu dicari dan akhirnya ketemu. Segala kepentingan telah Bundo titipkan juga ke Dady. Setelah kami buka buku wasiat tersebut, ternyata tulisannya dibuat dari Februari 2011, bahkan sebelum beliau operasi di Bulan November 2011.

'Bundo, maafin aku yang kurang maksimal dalam merawat Bundo. Insya Allah aku akan berusaha menjalani semua wasiat yang kau tulis. Bundo baik-baik 'disana'. Insya ALLAH kita akan ketemu lagi di surgaNya kelak. :') Aku akan tetap menjadi bintang kecilmu yang bersinar terang.'



"Dia pergi untuk kehidupan yang lebih baik. Dan aku yakin Allah Subhanahu wata 'ala akan menjaganya supaya selalu bahagia di kehidupan saat ini dan selanjutnya."


Salam sayang untuk Bundo,
dari little star yang selalu merindukanmu dan insya Allah mendo'akan kebaikan untukmu.


Rafting+paintball Cileunca, Pangalengan, Kab. Bandung

Fiuh. Kesampaian juga rencana raftingnya. 

Sabtu, 26 Maret 2016, waktu dimana 11 orang pencari udara segar melepas penat dengan melakukan kegiatan rafting+paintball di Cileunca, Pangalengan, Kab. Bandung. Ceritanya malam ini juga ada pertandingan PERSIB sehingga kami memang berniat tidak pulang terlalu malam.

Liburan kali ini kami menggunakan jasa Rafting Bandung (Airris namanya kalau baca dari jaket pelampung). Paket yang kami pilih adalah Paket Full Adventure Pangalengan (minus flying fox). Intinya sih paket itu terdiri dari rafting, paint ball, makan siang, dan transport selama kegiatan. Buat teman-teman yang berencana ikutan paket, sebaiknya ditanyakan lebih lanjut mengenai list paket tersebut agar jelas apa yang kita peroleh nantinya. :D

Meeting point di Salman, tepatnya di Jalan Gelap Nyawang. Tempat ini adalah saksi bisu awal pertemuan kami. Ini adalah tempat andalan berkumpul sedari dulu. ^^

Kami berangkat pk 7.15 dan tiba jam 9. Perjalanan ditempuh menggunakan mobil pribadi dalam waktu sekitar 105 menit.

Ohya, perlu dicatat juga, ketika kita ikut paketan dari EO gini, biasanya sudah termasuk tiket masuk wisata Situ Cileunca (memang disanalah meeting point untuk kegiatan ini). Saya pernah baca dari blog seseorang, karena mereka kurang info dan koordinasi, jadi bayar lagi pas masuk wisatanya.

And then, kami bertemu dengan Kang **** (gak inget) dari pihak EO. Ke-11 (udah kayak pemain sepakbola aja) adventurers pun menuju start point rafting. Who are they?

Iman, Ferdinan, Faris, Rommy, Restu, Naufal, MP, Yanwar, Amiril, Kartika, Oi.

Kalau ditanya, dari komunitas apa? Jawabannya adalah campur-campur. Haghag. Temennya ngajak temennya, ngajak temennya lagi, terus temennya temennya temen, gak jadi ikut karena sesuatu hal. ^^' #capedeh
 
Yes, we are ready to go!

Kami dibagi menjadi 2 perahu. Sebelum rafting, ada pengarahan dari panitia untuk safety selama rafting. Panitia memberikan arahan dengan kata-kata yang kocak. ^^

Menurut info yang kubaca dari internet, sungai yang menjadi lokasi rafting ini sepanjang 4.5 km. Saat itu cuaca bagus dan cerah. Ada beberapa jeram di sungai ini. Kalau kamu googling, pengalaman orang-orang menyebutkan beberapa nama jeram, namun kemarin yang aku ingat hanya jeram domba. Pada jeram domba ini pula jeram yang paling #asyik bantingannya. Grupku mendapatkan oleh-oleh selama perjalanan, yaitu waluh sunda yang dipetik oleh mamang instruktur dan molring yang hanyut di sungai. ^^'

Kami sempat ditipu oleh mamang instruktur. "Ya, angkat tangannya, ada yang moto disana." Bersemangat sekali kami mengikuti instruksi mamangnya. Gubrak! Ternyata kami ditipu. Ketika nabrak tebing, badan kami terjatuh ke belakang. Ini menunjukkan bahwa kami semua gila foto sampai walaupun mata sudah menyisir ke atas dan tidak ditemukan adanya tukang foto, tetep aja pasang senyum terbaik berharap akan menjadi momen yang diabadikan. :p
Sayangnya, momen ini hanya bisa diabadikan dalam ingatan. :D

Grup satunya?
Beberapa kali grupku menunggu mereka supaya rafting beriringan. Pantes aja lama, walau mereka cuman ber5, tapi pada kelas berat. Bisanya cuman goyang-goyang tapi gak ngedayung ^^'

Rafting
Pemandangan di sekitar cukup asri dan menenangkan. Aliran air yang mengalir mengingatkan pada hutang-hutang yang diharapkan ikut hanyut terbawa arus. :p
 
Waktu rafting sekitar 1-2 jam. Saya gak inget tepatnya berapa lama kami rafting. Pastinya, selesai rafting+paintball itu sekitar pk 11.50. Total lamanya kegiatan sekitar 3 jam.
 
Arrived to end point of rafting

Waktu terasa cukup singkat, maka kami pun memutuskan untuk melanjutkan petualangan dengan bermain paintball. Dalam permainan ini, kami dibagi 2 kelompok sesuai kelompok perahu. Kedua kelompok berebut untuk merebut bendera dan membawa ke area basecamp masing-masing. Kami diberi bekal 40 peluru untuk 'berperang'.

Siap berperang
Daaann.. Baru awal-awal permainan, diriku sudah tertembak di kaki yang menyebabkan sulit bergerak beberapa saat -_-. Kemudian, tembakan kedua tidak kalah perihnya. Haghag. Peluru sebanyak 40 biji pun tidak terasa cepat sekali habisnya. Dalam hal ini saya masuk tim hitam, melawan tim biru. Tim dengan warna persiblah yang menang ceritanya karena berhasil membawa bendera ke basecamp mereka dan mempertahankannya hingga akhir permainan. Paint ball berlangsung mungkin sekitar 15 menit.

Selesai berpetualang, kami kembali ke pos Situ Cileunca. Disini ada private bathroom khusus untuk peserta rafting. Kamar mandinya cukup enak dan kebeneran aku dapat kamar mandi dengan aliran kran paling kencang kayaknya. Jadi keasyikan mandi deh ampe keramas 3x dan sabunan 2x. Haghaghag.

Di pos ini kami ditawarin foto-foto pas lagi rafting. Harganya per foto Rp 15.000. Beberapa dari kami membelinya untuk discan kemudian dishare. :D
Buat teman-teman yang berniat untuk rafting, coba dipastikan dari awal apakah akan ada fotografer handal yang ikut menyusuri sungai dari atas tebing. Soalnya momen saat di perjalanan rafting sangat disayangkan kalau tidak didokumentasikan dengan baik. :D

Siap santap makan siang
Setelah selesai mandi, ganti baju, dan berbenah (wiih sueger buanget), kami menuju saung untuk makan. Menunya ada nasi, ayam serundeng, tempe tahu goreng, karedok, kerupuk, dan sambal. Porsinya menurutku cukup sekalipun untuk cowo. Udah mah selama permainan juga udah laper, jadi saat santap ini rasanya nikmat banget. #nyamnyam :p

Selesai makan, mulai ngantuk, enaknya tidur. Haghag. Kami menuju mushala untuk shalat, lalu bersiap kembali ke Kota Bandung. Eits, sebelum pulang gak lupa untuk berpose lagi dengan baju baru (dipake).
Berpose sebelum pulang
Aduh, diriku dan Oi itu yah, udah tau kecil, malah nangkring di belakang. Jadi keliatan makin kecil, deh.

Pada kunjungan kami ini, terlihat banyak bangunan yang dulunya adalah warung-warung gitu yang sudah dan sedang dirobohin. Bye bye Situ Cileunca. Ayo buat sesuatu baru yang bisa menjadi nilai pariwisata supaya daya tarik orang untuk berkunjung meningkat.

Kami meninggalkan Situ Cileunca sekitar jam setengah 3 sore. Kami sempatkan untuk mampir ke penjual oleh-oleh. Ada kerupuk susu, permen susu, dodol, susu, yoghurt, dll. Temen-temen pada asyik ngeborong, nih.

Perjuangan para supir belum selesai karena ada tantangan kemacetan di depan dan cuaca hujan. Mana banyak pohon-pohon tumbang pula. Geng Kijang dengan navigator Yanwar Rajib memilih untuk mengambil jalan-jalan alternatif dengan masuk-masuk kompleks demi menghindari kemacetan. Ada kalanya kami harus melewati banjir yang cukup tinggi ketika melewati jalan alternatif ini. Di saat ada yang sompral ngata-ngatain seorang ibu-ibu, tak lama kemudian mobilnya mogok ^^' #kualat. Beberapa kali mobilnya mogok. Ini menjadi pelajaran bagi kami supaya gak sompral lagi. :p

Setelah melewati berbagai belokan, halangan, rintangan (widih), dan mampir shalat Asar di pom bensin, melewati holis, pasar ciroyom, keluar Rajawali, akhirnya kami masuk kota Bandung dan berakhir di Salman lagi, tempat awal kami berkumpul. Kami tiba sekitar jam setengah 7 malam. Good job deh buat navigator kita. b^^d

Geng satunya? Genk Vios jalan duluan dan sempat terjebak di Kopo karena tidak lewat jalan alternatif. Alhamdulillah, semuanya kembali dengan selamat. :)
Mungkin yang gak kalah pentingnya, gak telat nonton PERSIB. Terus, gimana hasil pertandingan persib? Itu sudah masuk bab berbeda dan silakan kamu-kamu yang mau review. Saya mah udah sampe sini ajah. Gak nonton persib juga. :D

Ok, it's the last from me. New experience, new friends. Thanks a lot for today, guys. See you on our next adventure.
:)
Want to join with us? :D